Dr Tahir: Bantu Pengobatan Orang Lain Sama Artinya Mengobati Diri Sendiri

Dr Tahir: Bantu Pengobatan Orang Lain Sama Artinya Mengobati Diri Sendiri

- detikHealth
Selasa, 28 Jan 2014 17:37 WIB
Dr Tahir: Bantu Pengobatan Orang Lain Sama Artinya Mengobati Diri Sendiri
Foto: detikcom
Jakarta - Menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia tidak membuat Tahir lupa diri. Merasa dirinya berasal dari keluarga kurang mampu justru melecut dirinya untuk lebih banyak membantu sesama. Salah satu yang dilakukannya adalah membantu biaya pengobatan orang yang membutuhkan.

Tahir sadar benar bagi orang kurang mampu, terkadang berobat menjadi kemewahan tersendiri. Bagaimana tidak, untuk mengobati penyakit tertentu dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Bagi Tahir, membantu pengobatan orang lain sama artinya dengan mengobati diri sendiri.

"Dulu saya melayani orang sakit melalui gereja. Dulu saya pernah menangani ada anak yang tidak punya anus dan ginjalnya hanya satu. Waktu itu pas ada dokter dari Singapura yang datang. Di badan anak ini dililit pipa segudang. Lalu dia dioperasi beberapa kali," ujar Tahir mengisahkan salah satu anak yang pernah dibantu pengobatan olehnya. Hal itu disampaikan dia saat berbincang dengan detikcom di kantor Redaksi detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya, Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Saat ini bocah itu sudah tumbuh menjadi remaja 18 tahun. Operasi berkali-kali telah dijalani remaja itu, dan saat ini dia sudah bisa lepas dari popok yang sekian lama membebatnya, karena pada saat akan buang air kecil, remaja itu akan memasang pipa di alat kelaminnya. Kini remaja tersebut juga harus terus-menerus mengonsumsi antibiotik.

"Dengan membantu orang lain yang sakit, saya jadi tahu diri. Membantu pengobatan orang lain sama artinya mengobati diri sendiri," sambung pria yang usianya sudah berkepala enam ini.

Dia menjelaskan dirinya jadi tahu diri dengan melihat dan membantu orang sakit karena terkadang dalam hidup, saat manusia berada di puncak gunung, yang ada di bawah gunung tidak terlihat. Kesibukan dan rutinitas lain seolah membuat hidup manusia tanpa jeda, sehingga terkadang lupa bahwa di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung dalam hidup.

"Memberi kepada yang lain itu untuk menjaga manusia agar menjadi manusia utuh secara karakter. Bertemu dengan orang yang jauh kurang beruntung seperti cerminan buat saya," lanjut founder, chairman, dan CEO Mayapada ini.
(vit/up)

Berita Terkait