Selasa, 28 Jan 2014 19:29 WIB

Pesan Orang Terkaya ke-12 RI ke Anak Muda: Bekerjalah karena Tanggung Jawab

- detikHealth
Foto: detikcom
Jakarta - Usai menyelesaikan pendidikan, seseorang akan mulai bekerja. Terkadang pekerjaan pertamanya menjadi salah satu penentu karirnya kelak. Motivasi dalam bekerja pun beraneka ragam. Ada yang karena uang semata, mengisi waktu, penyambung hidup, dan sebagainya. Namun Dr Tahir, yang dinobatkan Forbes sebagai orang terkaya ke-12 di RI membagi pesan kepada para anak muda agar bekerja karena tanggung jawab.

"Bekerja karena hobi itu menurut saya adalah kelas terendah. Satu tingkat di atasnya bekerja karena tanggung jawab. Tiap status dalam hidup itu ada tanggung jawabnya," ujar Tahir yang merupakan founder, chairman, dan CEO Mayapada ini mengisahkan salah satu anak yang pernah dibantu pengobatan olehnya. Hal itu disampaikan dia saat berbincang dengan detikcom di kantor Redaksi detikcom, Jl Warung Jati Barat Raya, Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Menurut dia, kelas yang paling atas adalah bekerja karena visi. Dengan memiliki visi maka seseorang akan memprediksikan sesuatu yang terjadi di masa depan dengan melihat gejala-gejala yang sekarang terjadi.

"Jadi presiden, orang kaya, orang terkenal, menteri, itu bukan tujuan hidup tetapi jalan untuk mencapai tujuan," sambung pria asal Surabaya ini.

Dia berpendapat seseorang tidak akan menjadi berkat bagi orang lain jika tidak bisa membenahi keluarganya. Jadi sebelum berbuat banyak untuk orang lain, ada baiknya seseorang bertanggung jawab dulu pada keluarganya.

"Orang yang sudah bisa membenahi keluarganya, maka dia bisa membenahi di luar. Misalnya membenahi kesejahteraan orang yang kerja sama saya, teman saya, masyarakat, lalu dunia. Kita harus punya kapasitas untuk ini," lanjut Tahir.

Dalam kesempatan itu, Tahir juga mengatakan bahwa kegiatan memberi merupakan bagian dari hidup dan bukan CSR dari Mayapada yang didirikannya. Dia lantas menuturkan kisah kakak adik penjual minuman kacang hijau di lampu merah di kawasan Jakarta Barat. Kakak beradik itu menarik perhatiannya karena mereka tidak mau mendapatkan uang lebih dari hasil menjual minuman itu.

"Jadi kalau harga satu bungkus Rp 500, lalu ada orang yang memberi Rp 10 ribu tanpa meminta kembali, mereka tidak mau. Mereka bilang mereka berjualan dan bukan sedang mengemis," lanjut Tahir.

Kemudian Tahir mencari tahu keluarga kakak beradik itu dan membantu biaya sekolahnya. Hingga tibalah saat kakak beradik itu kuliah. Mereka ada yang diterima di kedokteran dan ada yang diterima di jurusan Sipil salah satu universitas di Jakarta. Tahir hanya membantu uang masuk, setelah itu kakak beradik tersebut berusaha mencukupi pengeluarannya dengan memberikan les ke anak-anak sekolah. Bebebrapa tahun kemudian, lahirlah seorang dokter dan sarjana teknik baru di Indonesia.

"Kebaikan itu tidak harus selalu dengan uang. Karena ini adalah berkah. Kalau kita baik pada orang, itu bisa menjadi bekal. Mungkin kita tidak merasakan, tapi siapa tahu anak dan cucu yang merasakan," sambung pria yang usianya sudah berkepala enam ini.

Dia juga mengapresiasi langkah yang dilakukan Bill Gates Foundation yang mana lebih bergerak ke arah pencegahan meluasnya penyakit. Sebab menurutnya dalam langkah itu ada keikhlasan. Karena tidak akan ada apresiasi atau terimakasih kepada langkah pencegahan yang bahkan mungkin penyakitnya belum dirasakan banyak orang. Namun ke depannya, dengan pencegahan itu, generasi yang akan datang bisa merasakannya.



(vta/up)