Jumat, 14 Mar 2014 18:31 WIB

Angka Kematian karena Hepatitis 3 Kali Lebih Tinggi dari HIV-AIDS

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Virus hepatitis, telah menyebabkan lebih dari satu juta kematian di Asia Pasifik setiap tahunnya. Jika tidak diatasi, maka dampak akan virus hepatitis ini akan terus meningkat.

Hepatitis adalah penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh virus. Akibat infeksi virus maka akan terjadi proses peradangan pada hati. Penyakit hepatitis dapat berlangsung tanpa gejala ataupun dengan keluhan dan gejala tertentu seperti demam, mual, muntah, air seni berwarna kuning tua sampai kecokelatan, serta mata dan kulit menjadi kuning.

Hepatitis merupakan salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperkirakan bahwa hepatitis B dan C kronis telah mempengaruhi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia.

Meskipun keadaannya sudah parah seperti ini, menurut survei kebijakan WHO baru-baru ini, hanya setengah dari negara-negara yang ada di Asia Pasifik yang melaporkan memiliki strategi nasional untuk pencegahan dan pengendalian virus hepatitis.

Kurangnya pendekatan yang strategis untuk mengatasi virus hepatitis di banyak negara tersebut menimbulkan kekhawatiran. Data yang baru dirilis menunjukkan bahwa walaupun telah ada kemajuan dalam pengobatan dan keberhasilan dalam menangani hepatitis B dan juga program vaksinasi yang dilakukan diberbagai negara tidak memberikan pengaruh yang signifikan.

Tingkat kematian yang disebabkan oleh virus hepatitis di Asia Pasifik, telah meningkat dari 695.000 per tahun di tahun 1990, menjadi lebih dari satu juta per tahun pada tahun 2010. Angka kematian karena hepatitis di Asia Pasifik, tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan HIV-AIDS dan sembilan kali lebih tinggi dari malaria.

Aksi nasional yang didedikasikan untuk virus hepatitis sangatlah dibutuhkan. Dengan melibatkan berbagai pihak seperti dokter, ahli kesehatan masyarakat, pasien, dan juga pemerintah. Pendekatan ini sangat sesuai dengan panduan yang dikeluarkan WHO pada tahun 2012 yaitu, 'Kerangka Aksi Global' untuk membantu pemerintah mengembangkan strategi nasional untuk mengatasi virus hepatitis.

"Tanggapan global untuk virus hepatitis telah membangun momentum baru, namun sampai saat ini aksi di Asia Pasifik masih lambat dan belum terkoordinasi. Kemitraan di lintas sektor untuk mendukung upaya nasional dan regional untuk memerangi virus hepatitis ini masih kurang. Dengan adanya forum kebijakan, kami berharap akan membentuk gambaran yang jelas mengenai daerah yang dibutuhkan untuk diajak bekerja sama," kata Profesor Ding - Shinn Chen, Ketua Coalition for the Eradication of Viral Hepatitis in Asia Pacific (CEVHAP) dalam keterangan tertulis yang diterima detikHealth pada Jumat (14/3/2014).





(vit/vit)