Gangguan Sendi Langka, Kepala Nina 'Tenggelam' dan Tinggi Badan Menyusut

Gangguan Sendi Langka, Kepala Nina 'Tenggelam' dan Tinggi Badan Menyusut

- detikHealth
Sabtu, 15 Mar 2014 09:02 WIB
Gangguan Sendi Langka, Kepala Nina Tenggelam dan Tinggi Badan Menyusut
Nina Parsons (Foto: Daily Mail)
Jakarta - Dua tahun belakangan, kepala Nina Parsons seperti 'tenggelam' ke dalam lehernya. Tinggi badan Nina yang awalnya 166 cm menyusut hingga tinggal 162,5 cm. Apa yang terjadi padanya?

Ternyata gadis ini mengidap gangguan sendi langka yang disebut Sindrom Ehlers-Danlos (EDS). Sindrom ini menyebabkan kolagen dalam tubuh Nina melemah. Jika tak kunjung ditangani, Nina khawatir suatu hari nanti ia akan mengalami kelumpuhan permanen karena kondisinya tersebut.

Kondisi ini baru terlihat ketika usia Nina mencapai 23 tahun. Saat itu ia mengalami gejala gangguan usus dan migrain. Kebetulan Nina juga mengidap diabetes tipe 1, sehingga dokter mengira itu karena diabetes yang diidapnya. Karena tak berbahaya, Nina pun menjalani hidup dengan normal, membuka bisnis make-up pengantin, bahkan bertunangan dengan kekasihnya.

Tiga tahun kemudian Nina mengaku tak lagi bisa mengabaikan rasa mual dan sakit kepala yang selalu datang bersama dengan gangguan di perut. Namun ketika menemui dokter, ia malah didiagnosis mengalami stres dan Nina dikatakan mengalami hipokondria atau cemas berlebihan terhadap suatu penyakit.

Karena tak ada yang mendengarkan, Nina pun mencoba mencari jawaban ke tempat lain. Ternyata setahun kemudian kondisinya justru memburuk setelah gadis ini terjatuh dari tangga kayu. Selain mengalami nyeri luar biasa, migrain yang dirasakan Nina makin memburuk dan penglihatannya terganggu.

Setelah menghabiskan tabungannya untuk melakukan berbagai tes dan berkunjung ke dokter, hingga akhirnya di usia 29 tahun Nina mendapatkan diagnosisnya hanya karena menjalani sebuah tes sederhana untuk melihat fleksibilitas tubuhnya.

Ternyata hipermobilitas adalah salah satu penanda EDS pada diri Nina. Hal ini dibuktikan dengan kaki tangannya yang super fleksibel, misalnya ia bisa meletakkan kedua tangannya persis di atas lantai tanpa perlu menekuk sedikit kakinya.

Sejak kecil, Nina juga dikenal memiliki tubuh yang lebih fleksibel ketimbang teman-teman sebayanya dan mendapat nilai tinggi untuk pelajaran olahraga. Tapi ia selalu menganggap kemampuan itu normal-normal saja.

Lalu apa penyebab sakit kepalanya? Di tengah keputusasaan, Nina mencoba melakukan riset online dan menemukan sebuah klinik khusus di Amerika. Ketika berhasil berkunjung kesana, dokter langsung memberinya scan MRI dan dari situ ia percaya Nina juga mengidap Cervical Cranio Instability yang berkaitan dengan EDS yang dialaminya.

Ini artinya leher Nina tak cukup kuat untuk menopang kepalanya dan batang otaknya lama-lama juga akan menyusut karena tekanan dari tengkoraknya. Inilah yang disinyalir dokter mengakibatkan tinggi tubuhnya menyusut hingga 1,5 inci. Untuk menopang kepalanya, Nina pun mengenakan head rest yang menurutnya tidak nyaman, gerah, serta terlalu keras.

Tak bisa bekerja, Nina pun terpaksa hanya bisa pasrah ketika usahanya bangkrut dan tunangannya meninggalkannya. Ingin sembuh, Nina mendapatkan informasi bahwa terdapat sebuah operasi terobosan yang dapat menyelesaikan masalahnya. Sayangnya prosedur yang dapat menghentikan proses penyatuan tengkorak dan tulang belakang Nina ini baru ada di AS.

Lebih malang lagi, gadis berusia 30 tahun ini takkan mendapat bantuan dari NHS untuk membiayai operasi dengan biaya mencapai 70.000 poundsterling (sekitar Rp 1,3 milyar) tersebut. Akan tetapi Nina tak putus asa. Ia berjuang sendiri dan sejauh ini Nina sudah berhasil mengumpulkan 3.000 poundsterling (sekitar Rp 57 juta).

"Saya tak butuh simpati. Saya hanya ingin operasi untuk mengembalikan hidup saya dan jadi wanita independen, tidak sakit-sakitan, dan tak bisa berbuat apa-apa seumur hidup saya," kata gadis asal Burton-on-Trent, Staffordshire tersebut, seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (15/3/2014).

(lil/vit)

Berita Terkait