Padahal bukan tidak mungkin seseorang membutuhkan pertolongan ketika seseorang berjalan, namun bagaimana hal itu bisa diketahui jika mata terfokus pada layar ponsel dan telinga tersumbat headphone? Salah satu grup media di Inggris bernama ITN pun melakukan percobaan untuk melihat sejauh mana kadar cuek dan kesepian masyarakat Inggris saat ini.
Mereka merekrut dua bocah perempuan bernama Uma (7) dan Maya (5). Uma dan Maya diminta untuk berdiri sendiri di salah satu pusat perbelanjaan Inggris, Victoria Place. Mereka juga diminta untuk menampakkan wajah yang ketakutan dan seakan-akan menanpilkan bahwa mereka sedang tersesat dan butuh pertolongan.
Hasilnya? Setelah berdiri dan berjalan mengitari pusat perbelanjaan yang menyambung dengan Victoria Station tersebut selama satu jam, hanya 1 orang yang menanyakan bagaimana keadaan mereka. Padahal ada 616 orang yang melewati dan bahkan bertatap mata dengan mereka.
"Sangat menyedihkan melihatnya. Sebagai ibu, tentunya perasaan saya sangat sedih melihat dua anak saya yang tersesat tidak diperhatikan oleh orang-orang yang lewat, entah sengaja atau tidak," papar Reshma Rumsey, ibu Maya dan Uma yang memang dengan sengaja mengizinkan anaknya terlibat dalam percobaan ini, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (25/3/2014).
Pearl Pitcher, satu-satunya orang berhenti untuk menanyakan kondisi Maya mengaku bahwa dirinya sudah melihat bocah itu berdiri untuk waktu yang lumayan lama, sehingga ia memutuskan untuk berhenti dan menanyakan apakah dia tersesat atau sedang menunggu seseorang.
"Dia sudah berdiri disana dengan wajah seperti ketakutan. Tidak ada yang menghampirinya, orang-orang yang lewat pun menghindarinya," papar Pitcher, seorang nenek dari London berusia tujuh puluhan ini.
Alasan terbaik yang bisa diberikan oleh orang-orang yang cuek dan tidak menanyakan keadaan Uma dan Maya adalah karena kesibukan. Mereka harus mengejar kereta selanjutnya atau mempunyai janji dengan orang lain sehingga jika berhenti dan menolong kedua bocah perempuan tersebut akan memakan waktu dan membuat mereka terlambat.
Namun tidak hanya itu, Carol Sarler, seorang pemerhati anak asal Inggris yang tidak terlibat dalam proyek tersebut mengatakan bahwa saat ini sedang terjadipaedophile hysteria di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika. Hal itu membuat keengganan untuk terlibat dalam hal apapun terhadap anak kecil menjadi semakin besar.
"Patut diketahui bahwa tak sedikit orang tidak berhenti untuk menanyakan kondisi kedua bocah tersebut karena takut dikira paedofil oleh orang lain. Jangankan menyentuh, menegur anak kecil yang tidak dikenal bisa membuat persepsi yang dari masyarakat di sekitar," pungkas Sarler.
(vit/vit)











































