Hati-hati, Skizofrenia Rata-rata Muncul di Usia 20-30 Tahun

Hati-hati, Skizofrenia Rata-rata Muncul di Usia 20-30 Tahun

- detikHealth
Kamis, 27 Mar 2014 18:01 WIB
Hati-hati, Skizofrenia Rata-rata Muncul di Usia 20-30 Tahun
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Skizofrenia adalah penyakit kronis di mana penderita memiliki kesulitan memproses pikirannya, seingga timbul halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas dan tingkah laku atau bicara yang tidak wajar. Penyakit ini rata-rata muncul di usia 20-30 tahun.

Hal itu diungkapkan Ketua Seksi Psikiatri Komunitas PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Suryo Dharmono SpKJ usai jumpa pers Konferensi Nasional Psikiatri Komunitas 2014 di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Jawa Barat, Kamis (27/3/2014).

"Sebetulnya kalau dari usia mulai 20-30 tahun. Jadi usia dewasa muda. Remaja lebih sedikit, kecuali faktor genetik yang kuat," kata dia.

Tidak ada satu penyebab pasti seseorang bisa mengidap skizofrenia. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya skizofrenia.

"Faktor genetik, cedera otak, trauma, tekanan sosial dan stres bisa menjadi pemicu. Kalau sejak kecil pola asuhnya membuat stres seseorang itu bisa cepat memicu," jelasnya.

Menurut dr Suryo, seseorang yang memiliki faktor genetik atau turunan memang lebih berisiko. Maka itu perlu pola asuh yang benar sejak dini. "Pola asuh yang diterapkan tidak pola asuh stresor lebih. Termasuk di sekolah, kepada gurunya diharapkan agar anak tidak stres," sarannya.

Lalu seperti apakah tanda-tanda seseorang yang mengalami skizofrenia? Gejala skizofrenia bisa bervariasi setiap orang. Namun secara umum dapat dikategorikan sebagai gejala positif, gejala negatif, gejala afektif dan gejala kognitif.

Gejala positif yakni mengalami hal-hal yang tidak dialami orang sehat normal. Gejala positif di antaranya seperti halusinasi, delusi, pikiran yang tidak terorganisir dan agitasi. "Misalnya ada seolah-olah mendengar suara, tahu dengar komentar padahal tidak ada orang di sekitarnya," terang dr Suryo.

Gejala lainnya yakni gejala negatif, yakni hilangnya pola pikir atau perilaku yang biasa dimiliki orang sehat dan normal. Seperti hilangnya semangat dan motivasi, menarik diri dari orang lain, apatis, hilangnya respons emosi. "Misalnya orang itu yang asalnya aktif tiba-tiba menjadi pendiam, pemurung, interaksi sosial yang berubah, itu salah satu gejala juga," ujarnya.

Sementara gejala afektif berhubungan dengan mood seseorang dan kognitif berhubungan dengan konsentrasi dan daya ingat. "Misalnya seperti depresi, kesepian, kecemasan, hilangnya fokus perhatian dan lamban berpikir, atau bahkan pikiran untuk bunuh diri," jelasnya.

Untuk pengobatan skizofrenia sendiri ada beberapa metode, di antaranya pemberian obat anti-psikotik dan terapi elektrokonvulsif (ECT) atau dikenal dengan terapi listrik. "Yang paling umum dilakukan saat ini obat anti-psikotik, sedangkan terapi listrik sudah banyak ditinggalkan," tandasnya.

(avi/vit)

Berita Terkait