Keberadaan obat baru ini memberi harapan bagi lebih dari 200.000 orang di Inggris yang terinfeksi hepatitis C. Pasalnya dari sekian banyak pasien, hanya 3 persen saja yang bisa mendapatkan pengobatan yang tepat. Itupun belum tentu menyembuhkan pasien sepenuhnya.
"Pengobatan yang ada sekarang adalah suntikan yang harus diberikan terus selama setahun dan memiliki efek samping seperti pasien jadi depresi, mudah lelah dan sering merasa tak enak badan. Ini juga tak aman bagi pasien hepatitis C yang sudah sirosis," tandas ketua tim peneliti, Dr Fred Poordad.
Obat oral bikinan tim peneliti dari University of Texas Health Science tersebut diklaim dapat menyembuhkan 90 persen lebih pasien hepatitis C hanya dalam 12 minggu.
Klaim tersebut didapat setelah peneliti menguji coba obat baru tersebut dengan melibatkan 380 pasien dari 78 klinik yang tersebar di Spanyol, Jerman, Inggris, dan AS pada tahun 2013.
Percobaan dilakukan sebanyak 2 kali, yang pertama berlangsung selama 12 minggu dan yang kedua 24 minggu. Kebetulan hampir seluruh pasien yang dilibatkan mengalami sirosis hati.
Ternyata setelah 12 minggu, 191 dari 208 pasien dinyatakan 'bersih' dari hepatitis C. Bahkan pada pasien yang mengikuti percobaan selama 24 minggu, pasien yang sembuh meningkat dari yang awalnya hanya 165 orang menjadi 172 orang atau 96 persen.
"Ini sungguh fantastis. Saya turut bahagia dengan kondisi pasien. Akhirnya mereka punya masa depan," ungkap Dr Fred bangga, seperti dikutip detikHealth dari BBC, Selasa (15/4/2014).
Dr Fred menambahkan obat ini bekerja dengan cara mencegah protein penyebab hepatitis C melakukan replikasi atau berkembang biak. "Pada akhirnya virusnya pun mati," imbuhnya.
Namun Dr Fred juga mengemukakan obat ini menimbulkan efek samping pada pasien seperti kelelahan, sakit kepala dan mual-mual.
Meski terkesan dengan terobosan baru ini, pakar virologi Gkikas Magiorkinis dari University of Oxford masih ragu karena studi tersebut tidak mempelihatkan apakah kankernya akan sembuh dalam jangka panjang, bilamana sirosisnya bisa diperbaiki atau gejala kerusakan hati total cenderung melambat.
"Pengobatan itu juga belum menjamin transmisi atau penularan hepatitis C di kemudian hari akan terjadi lagi atau tidak," tambahnya.











































