Kebiasaan Merokok Sulit Dihentikan, Ini Alasannya

Kebiasaan Merokok Sulit Dihentikan, Ini Alasannya

- detikHealth
Kamis, 17 Apr 2014 13:37 WIB
Kebiasaan Merokok Sulit Dihentikan, Ini Alasannya
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Peringatan bahaya rokok telah terpampang jelas di berbagai media. Namun, jutaan orang terus saja melanjutkan ritual menyesap batang rokok, tidak peduli benda itu dipenuhi bahan kimia beracun dan senyawa karsinogenik. Mengapa demikian?

Sherry McKee, pimpinan Laboratorium Farmakologi Perilaku di Yale, dan Jed Rose, pimpinan Pusat Rehabilitasi Rokok di Duke, memiliki analisis tersendiri. Menurut mereka, kebiasaan merokok bukan hanya melibatkan faktor kesehatan, tetapi juga faktor psikologis dan biologis.

"Kebanyakan perokok mulai merokok saat memasuki masa remaja atau masa dewasa tahap awal," terang McKee. "Kebanyakan perokok tahap awal yakin mereka dapat dengan mudah berhenti merokok kapan saja, dan hampir semua yakin tidak akan merokok dalam waktu lama," tambahnya.
 
Sayangnya anggapan itu, ujar Rose, benar-benar tidak tepat. Pada akhirnya perokok akan kehilangan kemampuan untuk membebaskan diri dari rokok. Dan tiga puluh tahun kemudian, mereka telah mencapai tahap di mana tidak bisa melewati satu hari pun tanpa rokok. Salah satu penyebabnya karena kebiasaan merokok telah tertanam dalam-dalam pada otak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahan kimia dalam rokok memengaruhi sistem otak perokok, secara harfiah mengeset agar kebiasaan itu tertanam dalam-dalam," ujar Rose seperti dikutip dari CNN pada Kamis (17/4/2014).

Alasan lain mengapa putus rokok sukar dilakukan, kata Rose, karena kegiatan merokok itu sendiri memiliki pengaruh yang lebih kuat ketimbang nikotin dalam rokok. Setiap bagian dari kegiatan merokok, mulai dari menyalakan batang rokok hingga menghirup asap rokok, akan menimbulkan sensasi tersendiri yang menyebabkan kecanduan.

Rose bahkan menganggap bahwa menghentikan kebiasaan merokok mungkin lebih sulit dilakukan ketimbang melepaskan diri dari jerat narkotika. Pasalnya, rasa tidak nyaman akibat putus kokain hanya muncul pada hari-hari awal saja dan akan segera hilang. Namun, tidak demikian dengan merokok.

Barry Blackwell, misalnya. Pria pecandu rokok itu telah sejak lama berusaha menghentikan kebiasaan merokok. Namun upayanya tak kunjung berhasil. Pria itu justru lebih sukses melepaskan diri dari kecanduan narkoba jenis kokain, yang sering dianggap lebih adiktif. Kata Blackwell, "Kokain jauh lebih mudah dihentikan daripada rokok."

(up/up)

Berita Terkait