Seperti dikutip dari ABC Australia, Jumat (11/7/2014), bocah yang lahir pada tahun 2010 di Mississippi, AS ini mengidap HIV (Human Imunodeficiency Virus) karena ketularan sang ibu saat ia masih berada dalam kandungan. Dan sayangnya karena tak kunjung diobati, ketika lahir bocah berjenis kelamin perempuan ini dinyatakan positif terserang HIV.
Namun 30 jam setelah persalinannya, tim dokter langsung memberikan obat-obatan anti-retroviral dalam dosis tertentu. Hingga akhirnya di usia 18 bulan ia berhenti mengonsumsi obat penekan aktivitas HIV dan dinyatakan sembuh dari HIV. Hal ini telah dipastikan tim dokter karena virus penyebab AIDS tersebut sama sekali tak terdeteksi dalam darah si bocah, bahkan hingga dua tahun lamanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi ketika si bocah menjalani pemeriksaan rutin awal bulan ini, tim dokter dibuat kaget karena mereka kembali menemukan HIV dalam darah si bocah yang dirahasiakan identitasnya tersebut. Jumlah sel T-nya juga menurun, disertai dengan kehadiran antibodi HIV dalam tubuhnya.
Kesemua faktor itu semakin meyakinkan tim dokter bahwa ada virus HIV yang aktif bereplikasi di dalam tubuh si bocah sekali lagi.
"Tentu kami kecewa dengan keadaan ini. Hal ini mengindikasikan bahwa pengobatan antiretroviral dini saja tidak serta-merta menghilangkan sel-sel yang terinfeksi HIV, meski bisa membatasi pertumbuhan virusnya dan mengurangi kebutuhan untuk mengonsumsi obat antiretroviral selama periode tertentu," simpul Anthony Fauci, direktur National Institute on Allergy and Infectious Diseases.
Dr Fauci juga melaporkan bocah yang kini berusia empat tahun itu kemudian segera diberi obat antiretroviral lagi dan mulai menunjukkan penurunan gejala.
Sebagai tindak lanjutnya, tim Dr Fauci tengah fokus untuk mencari tahu mengapa dan bagaimana AIDS yang diidap bocah ini bisa kembali kambuh.











































