Ganja Bisa Bantu Mengatasi Gangguan-gangguan Kesehatan Ini

Ganja Bisa Bantu Mengatasi Gangguan-gangguan Kesehatan Ini

- detikHealth
Jumat, 01 Agu 2014 12:08 WIB
Ganja Bisa Bantu Mengatasi Gangguan-gangguan Kesehatan Ini
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Mendengar kata ganja tentunya kita akan berpikir itu merupakan barang terlarang. Memang benar ganja termasuk dengan barang narkotika.

Meski begitu ganja juga memiliki manfaat lain yang lebih berguna, terutama bagi dunia medis, asal penggunaannya berada di bawah pengawasan dokter dan pihak berwenang lainnya.

Memiliki banyak manfaat bagi dunia kesehatan tak berarti ganja tetap boleh dikonsumsi secara bebas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dirangkum dalam detikHealth, Jumat (1/8/2014), berikut beberapa manfaat ganja untuk mengatasi gangguan kesehatan.

1. Mengurangi Efek Kemoterapi

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Minyak ganja dikatakan dapat meredakan efek samping dari kemoterapi. Selain itu, minyak ini juga telah dicoba oleh anak berumur 7 tahun, Mykayla Comstock, d Amerika Serikat.

"Minyak ganja membuat nafsu makan saya bertambah dan bisa tidur. Kemoterapi membuatmu merasa seperti ingin terjaga sepanjang malam, tapi ganja membuat saya gembira dan senang," kata Mykayla.

Meski begitu, para dokter anak mengkhawatirkan kondisi Mykayla. Menurut para dokter, selama masih ada obat yang efektif untuk mengatasi efek kemoterapi, maka pemberian ganja pada anak lebih baik dihindari.

2. Autisme Parah

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Gejala autisme yang dikategorikan self destructive atau membahayakan dirinya sendiri dipercaya dapat disembuhkan dengan pengobatan ganja medis. Hal tersebut diterapkan kepada Alex (12 tahun) yang juga mengidap autisme kategori ini.

Sejak diberikan ganja medis, Alex menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih tenang. Rutin mengonsumsi ganja medis dalam bentuk cair sebanyak tiga kali seminggu, bocah ini mulai menunjukkan perilaku tenang.

Meski begitu, penggunaan ganja medis ini tetap ditentang oleh para dokter, terutama bagi anak-anak. Bagi sebagian negara penggunaan ganja, baik untuk keperluan medis, masih menjadi kontroversial.

3. Kejang-kejang

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Sempat memiliki penyakit langka, Charlotte Figi, gadis kecil berusia 5 tahun ini harus mengalami kejang-kejang di setiap minggunya. Dua tahun kemudian, ia pun akhirnya sembuh total dari penyakitnya ini. Lalu apa yang menyebabkan ia sembuh dari penyakitnya ini?

Jawabannya adalah daun ganja. Tak hanya Charlotte saja, beberapa orang yang juga mengalami kejang-kejang, ikut beralih pada daun ganja. Seperti kejadian sebelumnya, para medis menyarankan untuk tidak terlalu sering memberikan daun ganja kepada anak-anak, karena dapat berakibat pada kecerdasan anak itu sendiri.

"Walaupun daun ganja bukanlah obat terlarang yang paling berbahaya yang ada di dunia, namun bukan berarti daun ganja tidak berdampak pada potensi ketergantungan dalam jangka panjang. Apalagi hal ini digunakan pada anak-anak," ujar Dr. Margaret Haney, Direktus Laboratorium Penelitian Marijuana di Universitas Columbia, New York.

4. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Gangguan jiwa post-traumatic disorder terjadi karena ada peristiwa yang mengguncang emosi secara luar hiasa seperti rasa takut berlebihan, tegang, dan gelisah. Biasanya untuk menangani pasien yang mengalami gangguan jiwa post-traumatic stress disorder ini perlu diberikan obat penenang atau terapi.

Pasien PTSD biasanya veteran perang. Untuk mengobati gejala ini, mereka umumnya menggunakan daun ganja atau marijuana sebagai pengganti obat penenang. Meski begitu, para peneliti dari Department of Psychiatry and Radiology di New York University School of Medicine mengatakan bahwa ganja memiliki efek samping.

"Cara tersebut memang sangat ampuh untuk menanggulangi masalah rasa takut dan gelisah, namun efek sampingnya adalah Anda akan merasakan nafsu makan yang lebih besar, kemampuan mengingat yang menurun, serta penurunan kemampuan otot," jelas mereka.

5. Sembuhkan Nyeri

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Perusahaan farmasi asal Inggris, GW Pharmaceuticals, memiliki obat semprot yang dapat meredakan nyeri pada kanker. Obat ini memiliki bahan dasar dari tanaman ganja yang dibuat dengan mengekstrak senyawa tanaman asli.

"Tidak seperti obat-obatan seperti obat penghilang rasa sakit yang dapat menyebabkan kematian jika diminum terlalu banyak, pasien yang 'overdosis' semprotan ganja hanya berisiko kecil mengalami masalah kesehatan akut," kata Margaret Hanet, profesor klinis neurobiologi di Universitas Columbia.

Selain itu, obat ini telah disetujui oleh beberapa negara seperti, Inggris, Spanyol, Kanada, dan Selandia Baru. Meski begitu, penggunaan obat ini juga masih dibatasi untuk pasien tertentu. Pasien dengan nyeri kanker yang tidak disebabkan oleh kerusakan saraf tidak boleh diberi obat ini.
Halaman 2 dari 6
Minyak ganja dikatakan dapat meredakan efek samping dari kemoterapi. Selain itu, minyak ini juga telah dicoba oleh anak berumur 7 tahun, Mykayla Comstock, d Amerika Serikat.

"Minyak ganja membuat nafsu makan saya bertambah dan bisa tidur. Kemoterapi membuatmu merasa seperti ingin terjaga sepanjang malam, tapi ganja membuat saya gembira dan senang," kata Mykayla.

Meski begitu, para dokter anak mengkhawatirkan kondisi Mykayla. Menurut para dokter, selama masih ada obat yang efektif untuk mengatasi efek kemoterapi, maka pemberian ganja pada anak lebih baik dihindari.

Gejala autisme yang dikategorikan self destructive atau membahayakan dirinya sendiri dipercaya dapat disembuhkan dengan pengobatan ganja medis. Hal tersebut diterapkan kepada Alex (12 tahun) yang juga mengidap autisme kategori ini.

Sejak diberikan ganja medis, Alex menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih tenang. Rutin mengonsumsi ganja medis dalam bentuk cair sebanyak tiga kali seminggu, bocah ini mulai menunjukkan perilaku tenang.

Meski begitu, penggunaan ganja medis ini tetap ditentang oleh para dokter, terutama bagi anak-anak. Bagi sebagian negara penggunaan ganja, baik untuk keperluan medis, masih menjadi kontroversial.

Sempat memiliki penyakit langka, Charlotte Figi, gadis kecil berusia 5 tahun ini harus mengalami kejang-kejang di setiap minggunya. Dua tahun kemudian, ia pun akhirnya sembuh total dari penyakitnya ini. Lalu apa yang menyebabkan ia sembuh dari penyakitnya ini?

Jawabannya adalah daun ganja. Tak hanya Charlotte saja, beberapa orang yang juga mengalami kejang-kejang, ikut beralih pada daun ganja. Seperti kejadian sebelumnya, para medis menyarankan untuk tidak terlalu sering memberikan daun ganja kepada anak-anak, karena dapat berakibat pada kecerdasan anak itu sendiri.

"Walaupun daun ganja bukanlah obat terlarang yang paling berbahaya yang ada di dunia, namun bukan berarti daun ganja tidak berdampak pada potensi ketergantungan dalam jangka panjang. Apalagi hal ini digunakan pada anak-anak," ujar Dr. Margaret Haney, Direktus Laboratorium Penelitian Marijuana di Universitas Columbia, New York.

Gangguan jiwa post-traumatic disorder terjadi karena ada peristiwa yang mengguncang emosi secara luar hiasa seperti rasa takut berlebihan, tegang, dan gelisah. Biasanya untuk menangani pasien yang mengalami gangguan jiwa post-traumatic stress disorder ini perlu diberikan obat penenang atau terapi.

Pasien PTSD biasanya veteran perang. Untuk mengobati gejala ini, mereka umumnya menggunakan daun ganja atau marijuana sebagai pengganti obat penenang. Meski begitu, para peneliti dari Department of Psychiatry and Radiology di New York University School of Medicine mengatakan bahwa ganja memiliki efek samping.

"Cara tersebut memang sangat ampuh untuk menanggulangi masalah rasa takut dan gelisah, namun efek sampingnya adalah Anda akan merasakan nafsu makan yang lebih besar, kemampuan mengingat yang menurun, serta penurunan kemampuan otot," jelas mereka.

Perusahaan farmasi asal Inggris, GW Pharmaceuticals, memiliki obat semprot yang dapat meredakan nyeri pada kanker. Obat ini memiliki bahan dasar dari tanaman ganja yang dibuat dengan mengekstrak senyawa tanaman asli.

"Tidak seperti obat-obatan seperti obat penghilang rasa sakit yang dapat menyebabkan kematian jika diminum terlalu banyak, pasien yang 'overdosis' semprotan ganja hanya berisiko kecil mengalami masalah kesehatan akut," kata Margaret Hanet, profesor klinis neurobiologi di Universitas Columbia.

Selain itu, obat ini telah disetujui oleh beberapa negara seperti, Inggris, Spanyol, Kanada, dan Selandia Baru. Meski begitu, penggunaan obat ini juga masih dibatasi untuk pasien tertentu. Pasien dengan nyeri kanker yang tidak disebabkan oleh kerusakan saraf tidak boleh diberi obat ini.

(up/up)

Berita Terkait