Salah satu perusahaan obat asal Amerika, Mapp Biopharmaceutical Inc, mengaku sudah menemukan obat yang dapat menyembuhkan Ebola. Hanya saja, obat yang diberi nama ZMapp dan berbahan dasar daun tembakau tersebut belum lulus uji klinis alias hanya dicoba ke hewan di laboratorium.
"Obat bernama ZMapp kini digunakan untuk mengobati petugas Amerika Serikat yang terkena Ebola di Afrika. Obat ini sebenarnya masih dalam proses penelitian (eksperimen), keamanannya pada manusia belum pernah diteliti dan baru pernah dicoba pada monyet percobaan," tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) RI Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya pada wartawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Reuters, WHO pun mengakui bahwa mereka tidak terlibat dalam pengambilan keputusan soal obat tersebut. Hanya saja, keadaan genting dan darurat yang terjadi di Afrika memang membutuhkan penanganan yang serius, cepat dan radikal.
"Kami sedang berada di situasi yang tidak mengenakkan saat ini. Di satu sisi kita berhadapan dengan penyakit yang mempunyai angka kematian yang tinggi dan belum ada obat atau vaksin resmi yang menanganinya. Di sisi lain sangat tidak etis memberikan obat yang belum diuji-cobakan ke manusia kepada pasien, terlebih pasien tersebut adalah dokter yang bertugas di sana," tutur WHO Assistant Director-General Marie-Paule Kieny.
Sementara itu, CNN melaporkan bahwa kondisi kedua pasien memang masih lemah, namun berangsur-angsur membaik. Hanya saja memang masih membutuhkan waktu cukup lama untuk menentukan apakah obat tersebut efektif atau tidak.
"Seperti yang kita ketahui bersama, tidak bisa mengatakan sebuah obat bagus atau tidak, bekerja atau tidak, dalam waktu singkat. Harus menunggu dan tidak boleh tergesa-gesa dalam memberikan penilaian," tutur DIrektur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Dr Anthony Fauci kepada CNN, Jumat (8/8/2014).
(ajg/ajg)











































