Masih Uji Coba, Obat Ebola Berbahan Tembakau Sudah Diberikan ke Manusia?

Pro dan Kontra Obat Ebola

Masih Uji Coba, Obat Ebola Berbahan Tembakau Sudah Diberikan ke Manusia?

- detikHealth
Jumat, 08 Agu 2014 13:03 WIB
Masih Uji Coba, Obat Ebola Berbahan Tembakau Sudah Diberikan ke Manusia?
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Wabah virus Ebola yang menyebar di Afrika semakin meresahkan. Pasalnya, belum ada obat atau vaksin yang dapat menyembuhkan pasien. WHO pun sudah menyerukan agar pihak-pihak terkait mau menggunakan obat yang masih dalam tahap eksperimen atau uji coba untuk digunakan pada pasien Ebola.

Salah satu perusahaan obat asal Amerika, Mapp Biopharmaceutical Inc, mengaku sudah menemukan obat yang dapat menyembuhkan Ebola. Hanya saja, obat yang diberi nama ZMapp dan berbahan dasar daun tembakau tersebut belum lulus uji klinis alias hanya dicoba ke hewan di laboratorium.

"Obat bernama ZMapp kini digunakan untuk mengobati petugas Amerika Serikat yang terkena Ebola di Afrika. Obat ini sebenarnya masih dalam proses penelitian (eksperimen), keamanannya pada manusia belum pernah diteliti dan baru pernah dicoba pada monyet percobaan," tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) RI Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya pada wartawan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan Prof Tjandra bahwa obat tersebut terpaksa digunakan karena memang belum ada pilihan obat lain. Meski begitu, kedua pasien yang menggunakan obat tersebut sebelumnya sudah dimintai persetujuan bahwa obat ini belum diujikan ke manusia dan mereka bersedia menanggung risikonya.

Dikutip dari Reuters, WHO pun mengakui bahwa mereka tidak terlibat dalam pengambilan keputusan soal obat tersebut. Hanya saja, keadaan genting dan darurat yang terjadi di Afrika memang membutuhkan penanganan yang serius, cepat dan radikal.

"Kami sedang berada di situasi yang tidak mengenakkan saat ini. Di satu sisi kita berhadapan dengan penyakit yang mempunyai angka kematian yang tinggi dan belum ada obat atau vaksin resmi yang menanganinya. Di sisi lain sangat tidak etis memberikan obat yang belum diuji-cobakan ke manusia kepada pasien, terlebih pasien tersebut adalah dokter yang bertugas di sana," tutur WHO Assistant Director-General Marie-Paule Kieny.

Sementara itu, CNN melaporkan bahwa kondisi kedua pasien memang masih lemah, namun berangsur-angsur membaik. Hanya saja memang masih membutuhkan waktu cukup lama untuk menentukan apakah obat tersebut efektif atau tidak.

"Seperti yang kita ketahui bersama, tidak bisa mengatakan sebuah obat bagus atau tidak, bekerja atau tidak, dalam waktu singkat. Harus menunggu dan tidak boleh tergesa-gesa dalam memberikan penilaian," tutur DIrektur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Dr Anthony Fauci kepada CNN, Jumat (8/8/2014).

(ajg/ajg)

Berita Terkait