Realistis dan Jangan Terpuruk, Kunci Agar Stres Tak Berujung Depresi

Realistis dan Jangan Terpuruk, Kunci Agar Stres Tak Berujung Depresi

- detikHealth
Kamis, 14 Agu 2014 09:31 WIB
Realistis dan Jangan Terpuruk, Kunci Agar Stres Tak Berujung Depresi
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Stres bisa terjadi saat seseorang mengalami kegagalan atau tengah menghadapi masalah yang pelik. Jika tak ditangani, stres bisa merujuk pada depresi atau kecemasan. Lantas, bagaimana agar stres tak menyebabkan seseorang depresi dan mengalami gangguan kecemasan?

"Harus realistis dan jangan terpuruk. Misal dia stres karena akan ujian ya harus belajar. Kalau stres karena nggak lulus ulang lagi. Hadapi masalah dan tetap berpikir realistis," tegas dr Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ (K), saat ditemui di Kantor IDI, Jl Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta, seperti ditulis pada Kamis (14/8/2014).

Dikatakan dr Danardi, ketika seseorang akan menghadapi sesuatu lalu kemudian gagal, dalam kondisi depresi kegagalan tersebut bisa menjadi 'kiamat' baginya. Oleh karena itu, perlu dukungan dari orang di sekitarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berikan support, bukan malah menjudge dan bikin dia makin jatuh. Harus diangkat dan disadarkan misal baru nggak lulus ujian satu kali padahal ada yang nggak lulus 3 kali nggak kenapa-kenapa, kita beri gambaran yang lebih berat supaya dia bisa sadar," tambah dr Danardi.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) ini menambahkan, penderita depresi awalnya masih bisa menyadari dia merasa sedih. Tetapi ketika berkembang menjadi waham atau delusi, berarti ada sesuatu yang tidak nyata dalam dirinya.

Dalam kondisi depresi, dikenal waham nihilistik di mana orang yang mengalami depresi merasa menderita, merasa tidak berguna, tidak ada masa depan dan dia mendengar bisikan-bisikan lebih baik bunuh diri.

Pada dasarnya, dijelaskan dr Danardi, stres yang dirasakan seseorang berarti ada beban yang berlebih pada dirinya tetapi belum spesifik. Nah, stres ini bisa menuju ke dua arah yakni cemas dan depresi. Dengan kata lain, stres adalah awal dari depresi atau cemas.

"Kalau cemas bencana belum datang, dia takut. Misal mahasiswa cemas mau ujian jadi sakit karena mikir ujian. Seminggu lagi letih lesu nangis karena ujian nggak lulus, nah itu sudah arah ke depresi sehingga kalau depresi itu bencana sudah datang," papar dr Danardi.

Meski demikian, depresi dan cemas bisa juga terjadi bersamaan. Dicontohkan dr Danardi, ketika seseorang akan ujian lalu ia cemas tetapi juga berpikir bahwa nanti saat ujian gagal ia akan dimarahi dan dianggap gagal orang tua.

(rdn/up)

Berita Terkait