Jakarta -
Rasa gatal sering muncul setelah digigit nyamuk dan kebanyakan tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruknya. Sebagian orang tahu betul, menggaruk bekas gigitan nyamuk hanya membuat gatalnya semakin memburuk tapi tidak semua tahu alasannya.
Fakta-fakta menarik seputar gigitan nyamuk memang tidak ada habisnya. Siapa sangka, binatang sekecil itu bisa menularkan berbagai macam penyakit berbahaya. Gatalnya memang tidak seberapa, namun bisa memberikan dampak yang sangat besar.
Lanjutan dari bagian pertama, berikut ini beberapa fakta menarik seputar gigitan nyamuk, seperti dirangkum detikHealth, Senin (18/8/2014).
1. Jangan digaruk!
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Betul, garukan pada bekas gigitan nyamuk hanya akan membuat gatalnya semakin memburuk. Selama bisa ditahan, sebaiknya jangan digaruk karena akan membuat liur nyamuk menyebar ke mana-mana dan meningkatkan respons histamin. Ketika pelepasan histamin meningkat, rasa gatal akan semakin parah.
"Terlebih, berlebihan garu-garuk bisa memicu luka di kulit yang menjadi pintu masuk bagi infeksi," jelas Dr Jorge Parada dari Loyola University Medical System Infection Control Program.
2. Bisa diredakan dengan obat bebas
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Setelah mengalami gigitan nyamuk, langkah terbaik adalah mencucinya dengan air dingin dan sabun. Selain mengurangi risiko infeksi, langkah ini juga bisa meredakan gatalnya. Jika masih tetap gatal, beberapa obat antigatal bisa didapatkan dengan mudah. Gunakan saja bedak atau salep yang mengandung hidrokortison 1 persen.
3. Flu tulang
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Bukan cuma penyakit mematikan seperti demam berdarah dengue dan malaria yang bisa menular lewat gigitan nyamuk, chikungunya atau flu tulang juga bisa menular. Meski tidak mematikan, penyakit yang satu ini sakitnya sangat menyiksa.
"Chikungunya umumnya tidak fatal. Namun gejalanya yang menyakitkan membuat orang berkata, 'Ini tidak akan membunuhmu tapi membuatmu serasa ingin mati saja'," kata Dr Parada.
4. Pengusir nyamuk banyak macamnya
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Repellant atau pengusir nyamuk ada bermacam-macam, sebagian di antaranya berupa sediaan topikal yang dioleskan dan mengandung Diethyltoluamide (DEET). Kadarnya bermacam-macam, namun di bawah 50 persen disebut kurang memberikan efek perlindungan.
Alternatifnya adalah produk-produk spatial repellants yang tidak dioleskan dengan kandungan picaridin, minyak lemon-eucalyptus. Ada pula lilin citronela dan obat nyamuk bakar. Paling mutakhir, sebuah aplikasi smartphone diklaim bisa mengusir nyamuk. Namun belum ada cukup bukti bahwa gelombang ultrasonik bisa mengusir nyamuk.
Betul, garukan pada bekas gigitan nyamuk hanya akan membuat gatalnya semakin memburuk. Selama bisa ditahan, sebaiknya jangan digaruk karena akan membuat liur nyamuk menyebar ke mana-mana dan meningkatkan respons histamin. Ketika pelepasan histamin meningkat, rasa gatal akan semakin parah.
"Terlebih, berlebihan garu-garuk bisa memicu luka di kulit yang menjadi pintu masuk bagi infeksi," jelas Dr Jorge Parada dari Loyola University Medical System Infection Control Program.
Setelah mengalami gigitan nyamuk, langkah terbaik adalah mencucinya dengan air dingin dan sabun. Selain mengurangi risiko infeksi, langkah ini juga bisa meredakan gatalnya. Jika masih tetap gatal, beberapa obat antigatal bisa didapatkan dengan mudah. Gunakan saja bedak atau salep yang mengandung hidrokortison 1 persen.
Bukan cuma penyakit mematikan seperti demam berdarah dengue dan malaria yang bisa menular lewat gigitan nyamuk, chikungunya atau flu tulang juga bisa menular. Meski tidak mematikan, penyakit yang satu ini sakitnya sangat menyiksa.
"Chikungunya umumnya tidak fatal. Namun gejalanya yang menyakitkan membuat orang berkata, 'Ini tidak akan membunuhmu tapi membuatmu serasa ingin mati saja'," kata Dr Parada.
Repellant atau pengusir nyamuk ada bermacam-macam, sebagian di antaranya berupa sediaan topikal yang dioleskan dan mengandung Diethyltoluamide (DEET). Kadarnya bermacam-macam, namun di bawah 50 persen disebut kurang memberikan efek perlindungan.
Alternatifnya adalah produk-produk spatial repellants yang tidak dioleskan dengan kandungan picaridin, minyak lemon-eucalyptus. Ada pula lilin citronela dan obat nyamuk bakar. Paling mutakhir, sebuah aplikasi smartphone diklaim bisa mengusir nyamuk. Namun belum ada cukup bukti bahwa gelombang ultrasonik bisa mengusir nyamuk.
(up/up)