Senin, 18 Agu 2014 11:31 WIB

Inspirasi Gadis Skoliosis

Mengenal Skoliosis, Kelainan Tulang Belakang yang Banyak Menyerang Remaja

- detikHealth
Foto rontgen Ardha (Dok: Pribadi) Foto rontgen Ardha (Dok: Pribadi)
Jakarta -

Dwi Setya Wardhani (26) alias Ardha, seorang gadis asal Mojokerto ketahuan mengidap skoliosis ekstrem saat duduk di bangku kelas 2 SMP. Ia bukan satu-satunya pengidap Adolescent Idiophatic Scoliosis, kelainan tulang belakang yang muncul saat remaja.

Tri Kurniawati dari UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca, RS Cipto Mangunkusumo mengaku punya anak perempuan dengan kelainan serupa. Sang anak didiagnosis mengidap skoliosis pada umur 11 tahun setelah sebelumnya muncul tonjolan di bagian dada. Hasil pemeriksaan menunjukkan, kelengkungan tulang belakangnya sudah mencapai 50 derajat sehingga tingkat keparahannya masih dikategorikan sedang.

"Kaget saya waktu dokter menyarankan anak saya untuk rontgen dan mendiagnosis anak saya terkena skoliosis. Saat itu saya tidak tahu skoliosis itu apa dan bagaimana penanganannya," tutur Tri kepada detikHealth, seperti ditulis pada Senin (18/8/2014).

"Saya sendiri belum tahu kenapa anak saya bisa terkena skoliosis. Padahal dulu struktur tulang anak saya normal seperti yang lainnya," lanjutnya.

Dilihat dari usia, remaja merupakan kelompok yang paling sering terkena skoliosis. Remaja yang dimaksud berada pada rentang usia 10-18 tahun. Kelompok paling rentan berikutnya adalah anak-anak.

Dr dr Rahyussalim, SpOT(K), dokter ortopedi dari RS Cipto Mangunkusumo mengakui bahwa skoliosis paling banyak menyerang perempuan. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun diyakini berhubungan dengan komposisi hormonal dalam tubuh.

Beberapa teori mengaitkan skoliosis dengan kelainan protein, namun dr Salim tidak berani memastikan karena di kalangan dokter pun masih banyak teori lain yang berkembang. Namun yang jelas, risikonya lebih besar pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit serupa dalam keluarganya.

"Orang yang punya riwayat skoliosis dari keluarga biasanya potensi untuk mengalami hal yang sama ada 70 hingga 80 persen," kata dr Salim.

Beban yang berat dan posisi duduk yang salah tidak menjadi penyebab langsung, tetapi bisa memperburuk kelengkungan kurva. Untuk itu, penanganan yang tepat perlu dilakukan agar progres pembengkokan tulang tidak bertambah parah.

(up/up)