ADVERTISEMENT

Kamis, 21 Agu 2014 13:45 WIB

Cuaca Tidak Menentu, Wilayah Rentan DBD dan Malaria Meluas

- detikHealth
Jakarta -

Perubahan iklim mengakibatkan cuaca semakin tidak menentu. Curah hujan yang semakin tinggi mengakibatkan jentik nyamuk pembawa penyakit tumbuh dengan subur.

Menurut laporan World Health Organization (WHO) penyakit malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang erat kaitannya dengan tingkat curah hujan. Peningkatan curah hujan menyebabkan tempat berkembang biak nyamuk semakin banyak sehingga kejadian penyakit juga jadi semakin tinggi.

Pusat penelitian perubahan iklim atau Research Center Climate Change (RCCC) dari Universitas Indonesia dalam laporan penelitiannya membuat peta kerentanan penyebaran DBD dan malaria. Peta dibuat dengan menghubungkan jumlah kasus DBD dengan tingkat curah hujan.

Hasilnya, RCCC menemukan adanya perluasan wilayah yang rentan terutama di daerah Sumatera Barat dan Jawa Timur. Peningkatan penyakit tersebut berbanding lurus dengan peningkatan curah hujan.

Dr Sonny P. Warouw, SKM, Mkes, dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan mengatakan peningkatan kasus DBD dan Malaria tidak hanya dipengaruhi oleh faktor iklim saja. Faktor lain yang ikut mempengaruhi kerentanan wilayah terhadap penyakit di antaranya adalah perilaku masyarakat dan kemampuan adaptasi wilayah lewat pembuat kebijakan.

"Peta kerentanan yang dibuat ini akan dijadikan dasar bukti untuk ditindaklanjuti lebih jauh. Bentuk tindak lanjutnya adalah peningkatan kapasitas kesehatan dan masyarakat desa," kata Sony saat ditemui pada seminar nasional Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kesehatan di Hotel Santika, TMII, Jakarta Timur, Kamis (21/8/2014).

Pemetaan yang dilakukan oleh RCCC ini bertujuan untuk tingkatkan kesiagaan pemerintah dan masyarakat terhadap perubahan iklim yang membawa dampak pada perubahan pola DBD dan Malaria.

(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT