Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap adanya laboratorium narkoba di sebuah apartemen di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Laboratorium tersebut digunakan untuk memproduksi happy water yang dikemas dalam minuman berasa dan liquid berisi etomidate.
Berdasarkan temuan tersebut, sebanyak empat orang ditetapkan sebagai tersangka.
"Petugas mengamankan empat orang tersangka yang masing-masing memiliki peran sebagai kurir, peracik, atau pembiaya," ucap Plt Deputi Pemberantasan BNN, Budi Wibowo, dikutip dari detikNews, Selasa (6/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya apa itu happy water dan etomidate? Peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) dr Hari Nugroho mengungkapkan happy water merupakan salah satu jenis narkoba yang muncul di Asia Tenggara sekitar tahun 2022.
Ia menjelaskan narkoba ini tidak hanya berisi satu jenis zat tunggal, melainkan campuran dari beberapa zat atau oplosan.
"Semacam oplosan atau cocktail dari berbagai narkoba, misalnya methamphetamine, MDMA (Metilendioksimetamfetamina atau ekstasi), diazepam, tramadol, ketamine, dan kafein," ungkap dr Hari ketika dihubungi detikcom, Selasa (6/1/2025).
"Biasanya dijual di sosmed atau tempat-tempat hiburan, baik dalam bentuk serbuk yang bisa dilarutkan dalam air atau dicampur dengan minuman lain," sambungnya.
Sementara itu, etomidate sebenarnya adalah obat anestesi yang digunakan secara medis. Namun, dr Hari mengatakan obat ini mulai banyak disalahgunakan, utamanya untuk membuat liquid vape.
Efek yang Ditimbulkan
Efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan kedua narkoba ini mirip. Happy water dapat menimbulkan efek tinggi dan euforia yang intens. Oleh karena itu, narkoba jenis ini sering digunakan untuk pesta.
"Sedangkan etomidate yang diharapkan juga mirip-mirip efek high, nge-fly, dan disosiatif yang intens," jelas dr Hari.
dr Hari mengingatkan penyalahgunaan narkoba jenis happy water dan etomidate bisa sangat berbahaya untuk kesehatan. Khususnya pada kasus etomidate, penggunaan melalui vape membuat dosisnya tidak terkontrol, sehingga sangat berisiko.
"Pada orang yang kemudian mengalami adiksi, terutama menggunakan rokok elektrik, hal yang sering tidak disadari adalah dosis yang digunakan seringkali jadi lebih banyak, karena proses menghisap vape yang terjadi berulang kali," tandasnya.
Simak Video "Video: Awas! Kepala BNN Peringatkan Modus Penyebaran Narkoba Makin Beragam"
[Gambas:Video 20detik]
(avk/kna)











































