Dikira Kanker, Ternyata Benjolan di Perut Thakre Tengkorak Janin

Dikira Kanker, Ternyata Benjolan di Perut Thakre Tengkorak Janin

- detikHealth
Jumat, 22 Agu 2014 08:31 WIB
Dikira Kanker, Ternyata Benjolan di Perut Thakre Tengkorak Janin
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
New Delhi -

Kantabai Gunvant Thakre (62), pertama kali hamil pada tahun 1978 ketika umurnya 24 tahun. Saat itu ia melarikan diri karena rasa takut operasi setelah dokter mengatakan janin tumbuh di luar rahim dan kecil kemungkinannya untuk hidup.

Thakre yang seorang warga Madhya Pradesh dari India tengah tidak ingin dioperasi. Ia mencari pengobatan ke klinik kecil untuk mengobati rasa sakitnya. Setelah berbulan-bulan rasa sakit perlahan menghilang dan Thakre yakin bahwa masalahnya telah usai.

Namun 38 tahun kemudian rasa sakit di perutnya kembali datang. Kali ini ia mengunjungi dokter di NKP Salve Institute of Medical Sciences, Nagpur. Dokter yang memeriksa mencari penyebabnya dan menemukan benjolan pada sisi bawah kanan perut Thakre.

"Dia mengatakan rasa sakit itu sudah dirasakan sejak dua bulan terakhir dan kami menemukan benjolan di sisi kanan bawah perutnya. Kami takut itu kanker," kata Dr Mohammad Yunus Shah dari NKP Salve Institute of Medical Sciences.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah diperiksa lebih jauh, ternyata bukan kanker yang ditemukan melainkan tulang dari janin dari kehamilan pertamanya. Dari hasil pemindaian dokter dapat mengetahui bahwa benjolan tersebut terbuat dari benda keras berkalsium.

"Setelah pasien menjalani MRI kami baru dapat mengetahui dengan pasti bahwa massa tersebut adalah tengkorak anak," ungkap Dr Shah.

Tim bedah yang mengoperasi Thakre menemukan massa berisi kerangka tengkorak anak yang telah berkembang dengan lengkap dan terbungkus kantung yang sudah mengeras.

Kasus yang menimpa Thakre disebut kehamilan ectopik atau ectopic pregnancy. Hal ini terjadi karena sel telur yang telah dibuahi sperma tidak menempel pada bagian uterus atau rahim. Dokter anak, Jennifer Shu dari Amerika Serikat mengatakan pada kehamilan ectopic sel telur menempel pada tuba fallopi.

"Kehamilan ektopik harus segera diobati untuk mencegah bahaya pada wanita yang hamil," kata Dr Shu seperti dikutip dari CNN, Jumat (22/8/2014).

Jika dibiarkan, ada kemungkinan janin yang berkembang dapat mengakibatkan tuba fallopi sobek. Sobeknya tuba fallopi bisa mengakibatkan pendarahan internal yang membahayakan nyawa ibu. Pada kasus Thakre tampaknya janin berhenti berkembang sebelum membahayakan nyawanya.

"Kami percaya ini bisa jadi kasus kehamilan ectopik terlama yang pernah tercatat dalam sejarah," kata Dr Shah.

(up/up)

Berita Terkait