Tingginya angka kematian akibat henti jantung mendadak tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri, apalagi henti jantung ini bisa terjadi pada siapapun, tak peduli berapapun usianya. Namun sebenarnya kematian akibat henti jantung ini tak melulu bisa dicegah oleh dokter.
"Henti jantung mendadak (HJM) ini tidak harga mati. Masih bisa kita usahakan untuk digagalkan. Dan tidak hanya petugas medis (yang bisa mengatasinya), setiap orang awam bisa berperan di sini," tandas Dr dr Budi Yuli Setianto, SpPD(K), SpJP(K) dalam acara bedah buku 'Peran Awam dalam Kasus Henti Jantung Mendadak' di Perpustakaan Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, seperti ditulis Kamis (28/8/2014).
Kepala bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran UGM/RSUP Dr Sardjito itu menegaskan peran orang awam bisa jadi lebih besar karena yang dibutuhkan dalam penanganan pasien HJM adalah waktu. Dalam hal ini dr Budi mengistilahkan penanganan pasien HJM berpedoman pada konsep 'Time is Lives'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memangnya apa yang bisa dilakukan orang awam pada pasien HJM? "Minimal dengan BHD (Bantuan Hidup Dasar), yaitu pijat jantung atau resusitasi. Memang perlu latihan tapi mengingat sebagian besar kasus HJM tergolong ke dalam henti jantung yang tidak bisa dikejut listrik, terlihat jelas besarnya peran orang awam dalam mengatasi pasien HJM, sembari menunggu bantuan medis," kata dr Budi.
Meskipun begitu, diamini dr Budi, upaya ini pun masih terkendala karena rata-rata orang Indonesia kurang percaya dengan kemampuan orang awam atau bukan tenaga medis.
Menanggapi hal ini, dr Nahar Taufiq, SpJP(K) yang menjadi reviewer dari buku dr Budi mengatakan, "Tidak perlu khawatir karena secara mendasar orang yang langsung melakukan pertolongan pertama atau biasa disebut tim primer (primary rescue) itu di dalam buku-buku dikatakan tidak terlatih tidak apa-apa. Tidak perlu punya sertifikat (keahlian tertentu), tapi yang penting sudah bisa melakukan CPR atau resusitasi."
Yang perlu sertifikat itu adalah tim sekunder, karena mereka harus melakukan defibrilasi (pemberian alat kejut listrik agar jantung kembali memompa) atau memberikan obat seperti dokter atau tenaga medis lainnya.
"Seperti yang diharapkan dr Budi, semua orang bisa CPR," imbuhnya.
(lil/up)











































