Di klinik khusus pencernaan atau Digestive Clinic, Siloam Hospital Kebon Jeruk (SHKJ), teknik operasi laparoskopi menjadi teknik utama untuk melakukan pembedahan pada pasien dengan permasalahan pencernaan. Salah satu dokter klinik, dr Errawan R. Wiradisuria, SpB(K)BD, MKes, mengatakan pihak asuransi yang biasanya berusaha agar pasien mendapatkan tindakan operasi konvensional.
Permintaan pasien untuk dioperasi konvensional muncul karena alasan biaya. Biaya operasi dengan laparoskopi dibandingkan dengan operasi biasa memang lebih mahal. dr Errawan mengatakan asuransi biasanya berusaha mendapatkan penanganan operasi konvensional untuk pasien jika memang bisa dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masalah biaya, ada juga pasien yang menolak operasi laparoskopi karena meragukan metodenya. Kolega dari dr Errawan, dr Wifanto Saditya, Sp(K)BD mengatakan laparoskopi memiliki kekurangannya tersendiri dan kekurangan tersebut tentu harus diberitahu kepada pasien sebelum operasi.
"Kalau operasi biasa kita menggunakan tangan. Menggunakan tangan kita bisa merasakan ini jaringan sehat, tumor, atau infeksi misalnya. Tapi kalau dengan laparoskopi itu kita tidak bisa menggenggam dengan tangan, jadi hanya berdasarkan alat. Kita tidak bisa menentukan batasnya dengan jelas, makanya dibantu dengan bantuan teropong," papar dr Wifanto ditemui di acara yang sama.
dr Wifanto mengatakan pasien bisa jadi menolak operasi laparoskopi setelah mengetahui kekurangan tersebut. Akibatnya pasien memilih jalan aman dengan operasi konvensional.











































