Senin, 29 Sep 2014 12:43 WIB

Keren! Para Ibu dan Peneliti Mendesain Alat Pompa ASI Canggih

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
New York - Sebagian orang, khususnya para ibu, mungkin familiar dengan alat pompa payudara. Alat ini biasanya digunakan oleh para ibu yang bekerja atau memiliki aktivitas lain, namun tetap ingin memberikan ASI (air susu ibu) bagi buah hatinya.

Alat pompa payudara yang ada sebelumnya, yaitu yang berbentuk sedot, dianggap kurang layak dan memiliki dampak negatif. "Alat itu keras, membuat sakit, sangat mahal, dan dapat menyebabkan luka serta kerusakan jaringan," jelas Alexandra Metral, peneliti The Massachusetts Institute of Technology (MIT), seperti dikutip dari CNN, dan ditulis pada Senin (29/9/ 2014).

Ia dan timnya kemudian mencari cara untuk membuat pompa payudara yang lebih baik dan dapat digunakan oleh semua orang. Mereka kemudian membaca blog Motherlode di The New York Times dan menemukan Tim Pompa Payudara Hackhaton. Mereka pun memutuskan untuk bergabung.

Dalam tim tersebut, beberapa kelompok insinyur, desainer, seniman, konsultan laktasi, dan juga orang tua bersama-sama mendatangi MIT selama akhir pekan untuk menyempurnakan alat pompa payudara yang sudah ada. Sebanyak 120 orang yang berpartisipasi dalam acara tersebut kemudian dibagi dalam 18 tim.

Setelah masing-masing kelompok berdiskusi tentang alat pompa ASI yang ada, para ibu dapat membagi informasi tersebut dengan dokter, konsultan pendukung laktasi, atau komunitas ibu menyusui dengan pompa ASI, untuk memecahkan beberapa masalah yang muncul.

Beberapa teknologi pun dibicarakan dalam pertemuan ini. Ada tim yang fokus pada peniruan rasa alami dari menyusui yang dapat dirasakan oleh bayi, ada pula yang membicarakan teknologi alat pompa berupa kain manset yang dililitkan di tangan untuk mengukur tekanan darah.

Kain ini digunakan untuk menggendong bayi dan juga sebagai alat pompa. Selain itu, kain ini juga sekaligus membuat bayi merasakan rasa asli menyusui. Dilihat dari tampilan dan beratnya, kain ini akan membuat penggunanya tampak seperti sedang menggendong bayi, bukan memompa ASI.

Acara yang dibuat oleh Tim Hackhaton ini kemudian menarik sejumlah eksekutif dari perusahaan yang mengusung kesehatan ibu termasuk Medela dan Ameda, untuk mendanai lebih lanjut ide-ide yang dihasilkan para peneliti dan relawan. Tim pemenang dalam acara ini mendapatkan kesempatan untuk mempromosikan ide mereka ke Investor Silicon Valley.

Tidak hanya itu saja, Tim Hackhaton juga berhasil mendorong beberapa produsen pompa payudara untuk memperbaiki desain mereka. Selain itu, Tim Hackhaton juga diberi izin untuk mempublikasikan ide mereka ke dalam file 3D online. Siapapun yang memiliki akses printer 3D dapat mencetak berbagai bagian dan aksesoris yang berhubungan dengan pompa payudara.

(ajg/vit)
News Feed