Sebuah buku yang berjudul Me, Myself, and Us: The Science of Personality and the Art of Well-Being, karangan psikolog Brian Little mengatakan bahwa kafein yang terkandung pada secangkir kopi dapat memberikan pengaruh berbeda pada seseorang yang memiliki sifat introvert dan ekstrovert.
"Setelah meneguk satu hingga dua cangkir kopi, seorang extrovert akan melakukan tugas-tugasnya lebih efisien. Berbeda halnya dengan pemilik sifat introvert, efek kafein justru tidak akan terlalu berpengaruh pada mereka," tulis Little.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi apa yang membuatnya menjadi berbeda? Dalam sebuah wawancara dengan NYMag.com, Little menjelaskan bahwa pemilik sifat introvert dan ekstrovert memiliki tingkat neokorteks (kewaspadaan terhadap lingkungan) yang berbeda di otak. Sehingga tingkat respon yang diterima oleh mereka akan berbeda-beda pula.
Para introvert akan menanggapi pekerjaan secara serius dan cenderung menjadikannya sebagai beban. Hal ini terjadi karena mereka memiliki tingkat respon yang lebih tinggi. Berbeda halnya dengan pemilik sifat ekstrovert yang lebih terbuka. Sehingga mereka akan menjalankan pekerjaannya dengan lebih santai.
Namun bukan berarti seorang yang introvert tidak boleh meminum kopi di pagi hari. Sebaiknya mereka yang memiliki sifat introvert agar menyeduh kopinya di waktu-waktu yang lebih santai, sore hari ketika pulang ke rumah atau ketika pekerjaan sedang tidak banyak.
"Ada baiknya mereka tidak mengonsumsi kafein sebelum melakukan hal penting seperti rapat besar ataupun presentasi, agar efek dari kafein tidak menjadikan tugas mereka sebagai beban. Mungkin meminum secangkir teh non-kafein sebagai gantinya akan lebih baik," sambung Little.
(mrs/up)











































