Tercatat jumlah peserta BPJS pada 31 Agustus 2014 lebih dari 127 juta jiwa dan data terbaru per 24 Oktober 2014 menunjukkan peningkatan jumlah peserta yang sudah lebih dari 130 juta jiwa. Demikian dipaparkan oleh Tono Rustiano, Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, dalam konferensi pers evaluasi kinerja BPJS Kesehatan per 31 Agustus 2014 di Media Center BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, seperti ditulis Jumat (31/10/2014).
"Untuk jumlah peserta ini berarti kurang sedikit lagi dari target sampai dengan akhir tahun 2014 yaitu sebesar 131 juta jiwa," ujar Tono.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan juga meningkat dari 16.831 menjadi 17.419 fasilitas kesehatan pada agustus 2014. Ini ada peningkatan sekitar 10 persen. Namun, saat ini yang sedang kita upayakan juga adalah mendorong banyak rumah sakit swasta agar terus tumbuh dan mau bekerja sama dengan BPJS," papar Tono.
Dijelaskan oleh Tono bahwa program ini akan sangat bermanfaat dan berguna bagi kesehatan masyarakat di masa kini dan di masa mendatang. BPJS Kesehatan mencatat bahwa penyakit paling banyak dan tergolong berat yang telah dibiayai oleh BPJS adalah hemodialisis atau yang mengharuskan pasien untuk cuci darah.
"Untuk pasien hemodialisa itu kalau ia sudah cuci darah, maka minggu depannya ia mau tidak mau harus cuci darah lagi. Karena itu sifatnya tidak bisa berhenti harus terus menerus dilakukan hemodialisa. Oleh karena itu, dengan mendaftar BPJS pasien akan sangat terbantu dalam hal biaya," kata Tono.
Distribusi fasilitas kesehatan ini juga harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Oleh karena itu, perlu diketahui daerah mana yang membutuhkan pelayanan rumah sakit dengan ruang ICU, mana yang membutuhkan alat untuk CT Scan dan sebagainya. Hal ini bertujuan agar distribusinya merata dan dapat dimaksimalkan untuk banyak pasien yang membutuhkan fasilitas itu.
"Misalnya ada sebuah kasus di mana seseorang mengalami kecelakaan motor, lalu kepalanya mengalami pendarahan, untuk mengobati ini jalan satu-satunya adalah dengan melakukan operasi pembedahan batok kepala dan kemudian pendarahan dapat dihentikan. Operasi ini bisa berlangsung dalam waktu 2 jam. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana jika rumah sakit tidak menyediakan ruang ICU yang sangat dibutuhkan untuk operasi itu. Oleh karena itu pendistribusian sesuai kebutuhan daerah juga penting," jelas Tono.
"Kami berharap di tahun 2019 nanti BPJS Kesehatan bisa mencapai seluruh penduduk di Indonesia," imbuh Tono.
(up/up)











































