Inilah salah satu alasan yang melatarbelakangi diselenggarakannya ESTRO Course 2014, di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta pada tanggal 2-6 November 2014. ESTRO Course 2014 mengambil tema 'Combined Drugs-Radiation Treatment: Biological Basis, Current Applications and Perspectives'.
"Kalau kita harus ke sana (Eropa), untuk belajar soal kanker, maka biayanya akan mahal sekali, belum cost untuk tinggalnya. Kira-kira bisa habis kurang lebih 3.000 dollar AS. Oleh karena itu kita datangkan para pembicara onkologi radiasi dari Eropa untuk berbicara di sini dan alhamdulillah mereka mau," papar Prof Dr dr Soehartati A Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Soehartati yang menjabat sebagai wakil presiden perhimpunan profesi onkologi radiasi se-Asia Tenggara itu juga menyampaikan program ini diadakan setiap tahun, namun secara bergiliran. Kebetulan untuk tahun ini, Indonesia, khususnya Yogyakarta dipilih menjadi lokasi diselenggarakannya program ini.
WHO sendiri memperkirakan di tahun 2030, akan terjadi lonjakan insiden kanker sebesar 300 persen secara global, dan 70 persen di antaranya berlangsung di negara berkembang, tak terkecuali di Indonesia. Menanggapi hal ini, dr Ibnu Purwanto, SpPD., KHOM, ahli onkologi dari RSUP Dr Sardjito mengamini bahwasanya angka kanker di Indonesia cenderung meningkat, meskipun tidak di semua jenis kanker.
"Ada yang stable atau lebih menurun seperti serviks atau kanker leher rahim, sudah lebih bisa dikendalikan karena ada skrining, ada vaksinasi tapi ada juga beberapa yang justru meningkat, seperti kanker payudara, colorectal atau saluran cerna, dan nasofaring," ungkapnya dalam jumpa pers ESTRO Course 2014 di Fakultas Kedokteran UGM, Selasa (4/11/2014).
dr Ibnu juga mengeluhkan banyak pasien kanker, seperti kanker saluran cerna yang datang ke rumah sakit sudah dalam stadium lanjut sehingga pilihan pengobatannya menjadi sulit. "Kalau misal datangnya sejak awal, kita masih bisa surgery atau radiotherapy, sehingga tingkat kesembuhannya juga tinggi. Tapi di sini tidak begitu, sehingga ini menjadi problem," pungkasnya.
Selain dari Indonesia, ESTRO School 2014 kali ini juga dihadiri oleh peserta dari negara-negara Asia Tenggara, serta Jepang, India, Pakistan dan Australia.
(lil/vit)











































