"Sanitasi yang baik terbukti bisa mencegah terjadinya kontaminasi pada sumber air bersih, melindungi lingkungan, mencegah penyakit menular, serta membantu mengurangi malnutrisi, stunting, dan terhambatnya perkembangan mental anak," tutur Dr Poonam Khetrapal Singh, Direktur Regional WHO di Asia Tenggara.
Apalagi, studi WHO tahun 2012 menunjukkan khususnya di kawasan Asia Tenggara. 123.300 kasus kematian akibat diare diperkirakan akibat sanitasi yang tidak memadai. Sementara, 131.500 kematian akibat diare diperkirakan karena praktik cuci tangan pakai sabun yang masih minim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, WHO mendorong semua negara di dunia, khususnya negara berkembang untuk meningkatkan kualitas sanitasi di wilayahnya. Sebab, dikatakan Dr Poonam selain memudahkan akses air bersih, mulai menghilangkan praktik BABS dan memastikan ada toilet di setiap rumah menjadi langkah penting meningkatkan sanitasi di sebuah wilayah.
"Dengan sanitasi yang baik, pencegahan penyakit akan lebih baik sehingga kerugian negara bisa ditekan. Maka dari itu, selain meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sanitasi menjadi salah satu kunci pengentasan kemiskinan terutama di negara berkembang," imbuh Dr Poonam.
Pengelolaan limbah pun dianggap penting mengingat industri kian maku. Selain itu, WHO juga melakukan penilaian bahwa di tahun 2013 peraturan terkait sanitasi, akses air bersih, dan kebersihan di fasilitas pelayanan kesehatan masih lemah. Jika tak segara dilakukan penguatan regulasi, dikhawatirkan target Mileenium Develompent Goals (MDGs) tidak akan tercapai.
"Tahun 2013 PBB menetapkan tanggal 19 November sebagai hari toilet sedunia. Hal ini dilakukan agar masalah sanitasi lebih diperhatian dan dijadikan prioritas pembangunan secara global. Saya mendesak semua negara, stakeholder dan mitra pembangunan untuk membuat sanitasi yang layak bagi seluruh warga di dunia," tegas Dr Poonam.
(rdn/up)











































