Selasa, 02 Des 2014 14:16 WIB

Teknologi Bedah Robotik Jadi Andalan Operasi Pengangkatan Kista dan Miom

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - ‚ÄéTeknologi robotic surgery atau bedah robotik dilakukan untuk melakukan tindakan-tindakan operasi besar. Operasi pengangkatan kista dan miom menjadi operasi yang paling sering dilakukan.

dr Sita Arumi, SpOG, salah satu dokter dari tim Advanced Robotic and Minimally Invasive Surgery (ARMIS) RS Bunda Jakarta mengatakan bahwa popularitas RS Bunda sebagai rumah sakit ibu dan anak membuat banyak kasus operasi yang ditangani berkisar di masalah kandungan.

"Bedah robotik kita ada 30 persen menangani mioma uteri, setelahnya ada 17 persen kista endometriosis dan 15 persen endometriosis biasa. Sisanya juga penyakit kandungan lain yakni adenomiosis, kista ovarium, dan lain lain," tutur dr Sita dalam acara Pencapaian ke-100 kasus bedah robotik di Double Tree Hotel, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2014).

Penggunaan teknik bedah robotik yang minim invasi membuat banyak pasien memilih bedah robotik daripada teknik bedah terbuka atau open surgery. Karena minim invasi, pasien pun akan memiliki bekas luka yang lebih sedikit.

"Ini berpengaruh juga ya untuk pasien. Kalau misalnya angkat rahim pakai open surgery kan harus dibuka. Bekasnya besar, bisa 10-20 cm. Kalau pakai bedah robotik kecil, nggak sampai 3 cm," tambahnya lagi.

Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012, bedah robotik di RS Bunda kini sudah memiliki pencapaian yang membanggakan. dr Ivan R Sini, SpOG, mengatakan bahwa sudah ada 109 pasien bedah robotik yang ditangani RS Bunda. Semua tindakan dilakukan sesuai prosedur dan tak ada pasien yang mengalami kematian.

"Komplikasi pasti ada. Karena sekali lagi bedah robotik bukan operasi dewa. Tetap ada yang perdarahan atau komplikasi lain karena memang bentuk risikonya sama seperti operasi besar lain, tapi persentasenya lebih sedikit," ungkapnya.

(mrs/vit)
News Feed