Dipercaya Berkhasiat, Kaum Albino Tanzania Diburu untuk Diambil Organnya

Dipercaya Berkhasiat, Kaum Albino Tanzania Diburu untuk Diambil Organnya

- detikHealth
Rabu, 10 Des 2014 20:00 WIB
Dipercaya Berkhasiat, Kaum Albino Tanzania Diburu untuk Diambil Organnya
Foto: BBC
Tanzania - Orang Albino yang memiliki kelainan pigmen di Tanzania masih menghadapi prasangka dan ancaman kematian. Kini sebuah kampanye baru tengah dijalankan untuk mengakhiri sikap permusuhan kepada komunitas yang beranggotakan sekitar 30 ribu orang ini.

Mtobi Namigambo, adalah seorang nelayan dari pulau Pulau Ukerewe dan ia memiliki seorang anak berumur 4 tahun bernama May Mosi yang mengidap albino. Pulau Ukerewe sebenarnya terkenal dengan lingkungannya yang ramah terhadap pengidap albino, namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku lagi.

Pada saat umur May berusia tiga bulan, ia bersama ibunya berhasil kabur dari percobaan penculikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sedang pergi memancing di danau. Mereka di rumah hanya sendiri ketika para penyerang datang," ujar Namigimbo seperti dikutip dari BBC pada Rabu (10/12/2014).

Untungnya saat itu sang istri sigap mendekap May dan kabur meninggalkan dua anak mereka yang lain di dalam rumah. Penyerang yang identitasnya tidak diketahui tersebut namun masih mengejar May sampai akhirnya teriakan dari sang istri membuat tetangga siaga dan mereka melarikan diri.

"Istri saya melompat keluar lewat jendela bersama May, meninggalkan dua anak kami yang tidak diusik sama sekali," tambah Namigimbo.

Kejadian yang dialami oleh May mungkin tidak dialami oleh pengidap albino lain di Tanzania. Menurut laporan kampanye lebih dari 70 albino dibunuh dalam jangka waktu tiga tahun belakangan ini dan hanya 10 kasus yang sampai ke pengadilan.

Pengidap Albino diburu di Tanzania karena organnya dipercaya mujarab jika dijadikan ramuan pembawa keberuntungan dan kekayaan. Pemerintah Tanzania berusaha menghentikan praktik tradisional ini dengan memberikan edukasi namun jangkauannya masih terbatas di daerah perkotaan.

Perwakilan dari Komunitas Albino di wilayah pinggiran Sengerema, Mashaka Benedict, mengatakan bahkan orang berpendidikan masih percaya bahwa potongan tubuh albino bisa membawa kekayaan.

Dia menuduh bahwa oknum penguasa terlibat dalam pembunuhan bermotif bisnis tersebut. Hal inilah yang menjelaskan mengapa hanya sedikit orang yang ditangkap, dihukum, atau dipenjara.

"Bagaimana bisa orang miskin membayar sampai Rp 120 juta untuk per bagian tubuh? Ini ada pengusaha dan politisi yang terlibat," ujar Benedict.

Terkait hal ini polisi mengatakan mereka masih mencoba melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut. Alasan penyelidikan yang lambat dikatakan oleh polisi karena sebagian besar kasus terjadi di daerah desa yang minim penerangan sehingga sulit mencari keterangan saksi.

(up/up)

Berita Terkait