Tradisi Pemakaman di Afrika Jadi Tantangan Berat Para Pejuang Ebola

Tradisi Pemakaman di Afrika Jadi Tantangan Berat Para Pejuang Ebola

- detikHealth
Jumat, 12 Des 2014 08:34 WIB
Tradisi Pemakaman di Afrika Jadi Tantangan Berat Para Pejuang Ebola
dok: WHO
Jakarta - Masyarakat di Afrika punya tradisi menyentuh dan memandikan jenazah sebelum dimakamkan. Ketika jenazah yang meninggal adalah korban Ebola, kontak fisik dengan para pelayat sangat rentan menularkan virus mematikan tersebut.

Dr Michael Friedman, medical officer WHO Indonesia yang pernah bertugas untuk menangani Ebola di Sierra Leone mengakui hal itu sebagai salah satu tantangan dalam memerangi Ebola. Sangat sulit untuk menerapkan prosedur pemakaman yang aman dengan adanya tradisi semacam itu.

Di dalam tubuh jenazah korban Ebola, terkandung virus yang bisa menular melalui kontak cairan tubuh. Bahkan hanya dengan menyentuh, virus bisa menular dan menginfeksi kerabat dari orang yang meninggal. Jika semua orang yang datang ikut memandikan dan menyentuh jenazah, semua berisiko tertular.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bayangkan, dari hanya satu kasus menjadi seratus kasus. Dan itu terjadi di Sierra Leone," kata Dr Friedman yang saat ini bekerja untuk WHO Indonesia, dalam temu media di Hotel Intercontinental Midplaza, seperti ditulis Jumat (12/12/2014).

Lebih mengerikan lagi, penyebab kematian terkadang tidak jelas betul apakah karena Ebola atau bukan. Jika dipastikan meninggal karena Ebola, biasanya ada tim khusus untuk menguburnya. Tim tersebut dilengkapi alat pelindung yang menutupi seluruh permukaan tubuh.

Diakui pula oleh Dr Friedman, sangat sulit untuk mengubah perilaku masyarakat meski dalam kondisi darurat semacam itu. Dibutuhkan komunikasi yang khusus, dengan dibantu oleh tokoh masyarakat untuk merelakan jenazah dimakamkan dengan cara yang lebih aman.

(up/up)

Berita Terkait