"Tidak ada gangguan sesuatu yang signifikan pada manusia kalau naik, tapi kalau pesawatnya turun bisa mengganggu," ujar Letkol Kes dr Wawan Mulyawan, SpBS, pakar kesehatan penerbangan, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (29/12/2014).
Menurut dr Wawan, jika pesawat naiknya tidak mendadak, maka penumpang yang berada di dalam pesawat tidak akan merasakan apa-apa. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa posisi pesawat sudah lebih tinggi. Apalagi pesawat sudah dilengkapi teknologi yang membuat penumpang seolah-olah berada di atas tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara jika badan pesawat ada yang terbuka, bocor, atau pintu pesawat lepas maka otomatis tekanan udara di dalam pesawat dengan yang ada di luar akan sama. Akibatnya penumpang akan mengalami kesulitan bernapas. Sulit bernapas yang pada akhirnya menyebabkan pasokan oksigen di otak berkurang menyebabkan seseorang akan pingsan.
Sebaliknya kalau menukik turun dari ketinggian 8.000 kaki hingga 0 kaki, maka pada ketinggian 7.000 kaki sudah bisa dirasakan penurunannya. "Terkadang penumpang akan merasakan kuping yang sakit akibat perbedaan tekanan udara yang ada di dalam kuping dengan di luar, ngilu di gigi pada gigi yang bolong atau gigi yang pernah ditambal dan ada bolongan yang terbuka. Pada gangguan perut, lambungnya merasakan kembung dan begah," jelas dr Wawan.
(vit/vit)











































