Akibat postingannya itu, Dinda mendapat kecaman dari hampir seluruh pengguna jejaring sosial di Indonesia, terutama Path dan Twitter. Bahkan tak berselang lama, banyak bermunculan lelucon 'meme' untuk mem-bully Dinda. Bullying tetap terjadi meskipun Dinda kemudian menyampaikan permohonan maaf di akun yang sama.
Ketika dimintai tanggapan tentang kasus ini, dokter ahli kandungan dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, dr Hari Nugroho, SpOG mengatakan, sudah seharusnya ibu hamil mendapat prioritas tempat duduk ketika berkendara dengan moda transportasi umum seperti bis dan kereta api.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lagipula beban kerja jantung wanita yang sedang berbadan dua juga lebih tinggi, karena ia harus memompa cairan ke seluruh tubuhnya dua kali lebih banyak. Dan bila ia dibiarkan berdiri terlalu lama, akan lebih banyak darah yang turun ke bagian bawah tubuh sehingga aliran darah tidak terlalu optimal untuk janin di rahim.
"Orang hamil itu kan ibaratnya menghidupi dua orang, jadi butuh life supprot 24 jam untuk rahimnya. Vitalitas tubuh ibu hamil juga lebih rendah dari orang tidak hamil," lanjutnya.
Ayah satu anak ini juga mengingatkan, ibu hamil yang sering berdesak-desakan di angkutan umum bisa menyebabkan janinnya mengalami gangguan. Mengapa begitu? Sebab berdesak-desakan akan membuat ibu hamil lebih stres sehingga hormon kortisol dalam tubuhnya meningkat.
Untuk jangka panjang, dr Hari mengatakan, paparan stres pada janin bisa mengakibatkan gangguan perilaku, gangguan IQ dan emosi pada janin di kemudian hari. Stres juga bisa mengakibatkan sistem kekebalan tubuh si ibu hamil menurun lalu memicu kejadian infeksi dalam rahim dan kehamilan prematur.
"Akibat kehamilan prematur ini sangat banyak misalnya kesulitan bernapas karena paru-paru bayi belum sempurna. Lalu, muncullah penyakit paru di kemudian hari yang mempengaruhi tingginya angka kematian bayi," imbuh dr Hari.
Lantas bagaimana dengan Dinda? Sebagian besar pengguna media sosial menilai Dinda kehilangan rasa empati. Psikolog dari RS Pluit Jakarta, Rosdiana Setyaningrum, M.Psi., MHPEd, mengatakan empati yang dimiliki seseorang tidak terbentuk begitu saja, tapi dibentuk oleh banyak faktor, di antaranya pendidikan, lingkungan dan pola asuh.
Menurutnya, kasus Dinda adalah cerminan mental bangsa yang memang telah banyak kehilangan nilai toleransi dan sopan santun. Ia kemudian mencontohkan masih banyak orang yang berkendara di jalan raya namun melawan arus atau melanggar lalu lintas. Padahal semua tahu ini contoh perilaku yang buruk, tapi nyatanya banyak yang menganggapnya wajar dan melakukan kesalahan yang sama.
"Nggak cuma Dinda kok. Buktinya ada teman-teman Dinda yang bela, berarti memang ada yang salah dengan lingkungan kita," kata Diana. Toh menurut Diana, Dinda sudah meminta maaf.
"Kalau banyak yang mengecam Dinda, bagi saya itu menunjukkan bahwa di negara ini masih banyak yang sebenarnya punya empati. Kita ambil positifnya saja," kata Diana.
Untuk ibu hamil yang terpaksa harus menggunakan angkutan umum sebagai sarana mobilitas utama, dr Aryando Pradana, SpOG dari RS Bunda Jakarta memberikan tips agar ibu hamil tetap nyaman dalam perjalanan. Pertama, selalu bawa minum karena kebutuhan cairan ibu hamil mencapai 12 gelas sehari. Kedua, siapkan kantung plastik sebagai antisipasi mual dalam perjalanan.
"Selain itu pintar-pintar menyesuaikan waktu berangkat karena ibu hamil kan jalannya juga harus lebih pelan. Terlalu kencang berjalan atau bahkan lari bisa membuat perut kontraksi dan tak jarang berakibat pada kelahiran prematur," urainya.
(lil/up)











































