Menurut psikolog klinis Untung Subroto Dharmawan, M.Psi, keluarga korban kecelakaan yang terpukul, misalnya di kasus AirAsia QZ8501, bisa mengalami secondary trauma. Ini merupakan trauma yang dialami mereka yang tidak mengalami kejadian secara langsung, namun mereka mendengar kabar tentang kejadian tersebut dari orang lain, menyaksikan secara langsung kejadian di depan mata, menyaksikan tayangan dari media massa, dan lainnya.
"Ciri-ciri seseorang yang mengalami secondary trauma ialah individu dapat mengalami gangguan tidur, lalu adanya reaksi-reaksi lain yang timbul seperti perasaan marah atau sensitif, atau merasa bersalah, ketakutan yang intens, cemas, kehilangan kontrol, gangguan memori, mimpi buruk, dan rasa kehilangan," papar Untung dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (2/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu normal dan boleh-boleh saja. Itu kan kehilangan mendadak dan kehilangan orang yang kita cintai, jadi nggak apa-apa," ucap Untung.
Bagi mereka yang mengalami kondisi ini, bisa jadi menjadi trauma akan sesuatu hal. Misalnya karena keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat, bisa jadi mereka yang ditinggalkan trauma naik pesawat.
"Bisa jadi untuk yang mengalami secondary trauma akan mengalami ketakutan naik pesawat. Ini dampak dari perasaan cemas dan ketakutan yang intens," ujar Untung.
(vit/vit)











































