Senin, 05 Jan 2015 14:59 WIB

5 Fase yang Dilalui Saat Kehilangan Orang Tercinta Secara Mendadak

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Kematian seseorang tentu menjadi saat yang berat bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Apalagi jika hal itu terjadi secara tiba-tiba. Secara psikologis, ada lima fase yang dilalui seseorang saat kehilangan orang yang dicintai.

Mengutip teori milik Dr Kubler Ross, Untung Subroto Dharmawan M.Psi, psikolog klinis dan staff pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara memaparkan fase-fase tersebut dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Senin (5/1/2015):

1. Fase shock/ terkejut

Fase ini terjadi karena rasa tidak percaya akan kabar menyedihkan tentang hilangnya anggota keluarga, misalnya seperti pada kasus kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Terlebih jika kehilangan terjadi secara mendadak.

Tentu lain rasanya jika keluarga yang dicintai meninggal karena sakit, atau karena usianya yang sudah lanjut. Biasanya anggota keluarga sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi kehilangan tersebut. Tapi tidak jika kehilangan terjadi secara tiba-tiba.

"Reaksi normal yang biasanya timbul pada fase ini tak lain ialah menangis dan melamun," kata Untung.

2. Fase denial/ penyangkalan

Kerap kali individu menyangkal atau menentang kepergian orang yang mereka cintai. Mereka berharap peristiwa sedih itu hanya mimpi dan berharap waktu dapat berputar kembali.

Dalam fase ini, mereka yang sedang berduka menggangap kabar yang menyedihkan tersebut salah. Maka itu adanya berita-berita yang tak pasti hanya akan memperburuk kondisi keluarga yang sedang berduka.

3. Fase kemarahan

Kemarahan bisa terjadi karena minimnya informasi yang dibutuhkan para anggota keluarga. Kepastian informasi adalah hal penting yang dibutuhkan oleh mereka yang sedang berduka.

"Kemarahan biasanya bisa ditujukan ke berbagai pihak, marah pada diri sendiri, terlebih marah kepada Tuhan. Mereka yang berduka kerap mempertanyakan alasan kenapa hal tersebut harus menimpa mereka," lanjut Untung.

4. Masa berkabung

Fase ini bisa terjadi selama beberapa bulan hingga tahunan. Diiringi dengan perasaan marah, kesepian, kecewa, hingga bisa berdampak pada depresi. Karena itu dukungan dari anggota keluarga sangat dibutuhkan dalam hal ini. Tak hanya itu, pada fase ini mungkin penanganan profesional oleh psikolog atau psikiater juga dibutuhkan.

5. Fase Pemulihan

Memang pada hakikatnya setiap orang punya kemampuan untuk memulihkan dirinya. Tapi dengan adanya dukungan keluarga yang bersedia untuk menjadi teman curhat tentunya akan mempercepat proses pemulihan.

Individu pada tahap ini sudah mulai mampu kembali ke aktivitas semula. Misalnya, yang biasanya bekerja dapat kembali bekerja seperti biasa. Lalu mereka biasanya sudah mampu mengambil makna dari peristiwa kehilangan tersebut.

(vit/vit)