Menjelang pergantian tahun, media sosial justru digemparkan dengan kabar tentang upaya percobaan penculikan yang terjadi di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Meskipun dugaan ini tidak terbukti benar, orang tua tetap perlu tahu dan mengantisipasi hal semacam ini.
Informasi yang beredar menyebutkan, seorang wanita yang diperkirakan berumur 25 tahun diduga mencoba menculik seorang gadis kecil yang tengah berada di eskalator dengan cara menggandeng paksa si kecil. Sang ibu yang berada di sebelahnya sontak berteriak untuk memperingatkan si penculik.
Namun si penculik tampak bergeming, dan gandengan tangan si kecil baru dilepaskan saat sang ibu nekat mendorong tubuhnya dengan stroller. Pihak mal tempat kejadian percobaan penculikan terjadi mengaku itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Setelah diselidiki, wanita yang dikira akan menculik tersebut sebenarnya hanya berinisiatif membantu si kecil yang berjenis kelamin perempuan dengan usia diperkirakan kurang dari lima tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas benar atau tidak kabar tersebut, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa orang tua memang harus memberikan perhatian ekstra kepada anak, terutama saat berada di ruang publik.
"Tak hanya untuk mencegah kasus penculikan yang marak karena kelengahan orang tua di tempat ramai, banyak anak yang tidak digandeng lalu jatuh dari eskalator. Ini biasanya karena orang tuanya sibuk sendiri. Ingat, setiap kali ke mal atau kemana saja, anak-anak harus didampingi," ujarnya.
Sebagai bukti, Arist memaparkan selama tahun 2014, Komnas PA menerima pengaduan 196 kasus anak hilang. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2013, yakni 111 kasus. Dari data pengaduan tersebut, 6 kasus (3%) merupakan penculikan bayi; 45 kasus (23%) penculikan anak; 15 kasus (8%) anak hilang; 61 kasus (31%) penelantaran bayi dan 69 kasus (35%) penelantaran anak.
Modus penculikan adalah diambil paksa 21 kasus (41 persen), dibujuk 9 kasus (18 persen) dan lain-lain 21 kasus (41 persen).
Menurut sejumlah psikolog, ada beberapa hal yang bisa ditanamkan pada anak untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan semacam ini. Pertama, mengajari anak untuk tidak mudah berbicara pada orang asing atau yang tidak dikenal.
"Anak yang ramah biasanya mudah menyapa orang, sekalipun orang yang tidak mereka kenal. Jadi, saat ada orang asing yang berusaha mengajak anak berkomunikasi, ingatkan anak agar tidak sembarang berkomunikasi. Bahaya kan kalau sampai anak malah menyapa penculik dan terjebak dengan bujukan manisnya?" kata psikolog anak Debora Basaria.
Berbicara dengan orang asing diperbolehkan bila ada pendampingan dari orang tua atau yang dikenal. Kedua, jangan jauh-jauh dari orang tua. Ini tentu bertentangan dengan naluri anak-anak untuk berkeliaran atau mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
"Tapi misalkan orang tua sibuk berbelanja, anak-anak jangan dibiarkan pergi sendirian atau bermain sendiri. Orang tua juga jangan sampai kehilangan fokus dalam mengawasi anak, atau ada baiknya jangan pergi berdua saja," terang Debora.
Ketiga, ajarkan kepada anak untuk menolak pemberian orang yang tidak mereka kenal. "Karena bisa jadi barang-barang tersebut adalah media yang digunakan penculik untuk menghasut anak agar lebih mudah menurut dan gampang dibawa sama si penculiknya," ucap Debora.
Kalaupun ada orang yang tidak dikenal mencoba untuk menarik paksa atau menggendongnya, tanamkan agar anak segera berteriak.
Yang tak kalah penting, "Orang tua jangan sibuk dengan gadget. Nanti kalau orang tua sibuk dengan gadget, dia tidak bisa memantau anak dan saat anak terbawa arus keramaian orang tua menjadi tidak tahu kemana anaknya hilang," timpal psikolog Naomi Soetikno.
(lil/up)











































