Minuman berkarbonasi atau bersoda yang populer dengan istilah soft drink banyak mengandung gula maupun pemanis buatan. Pakar mengatakan bahwa pemanis ini biasanya mengandung jumlah kalori yang tinggi.
Pakar gizi klinis dari Siloam Hospital, dr Inge Permadhi, SpGK mengatakan, kandungan gula atau pemanis buatan yang terdapat di minuman bersoda memiliki kalori yang tinggi. Jika diminum berlebihan tanpa disertai olahraga, kalori tersebut akan mengendap dan berubah menjadi sel lemak.
"Jadi kalori itu kan sumber energi. Nah, kalau kita minum itu banyak-banyak tapi kita nggak beraktivitas, nggak terbakar kalorinya, tubuh akan menyimpannya sebagai cadangan energi dalam bentuk sel lemak," urainya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan dr Inge bahwa pertambahan berat badan rentan terjadi pada orang yang doyan minuman bersoda karena kalori yang masuk ke dalam tubuh lebih dari yang dibutuhkan. Manusia, dikatakan dr Inge, sejatinya mendapat kalori dari makanan yang dimakan.
Oleh karena itu ia menyayangkan kebiasaan sebagian masyarakat yang masih menenggak minuman bersoda sehabis makan berat. Sensasi dingin dan menyegarkan di tenggoran lebih diutamakan daripada jumlah kalori yang nantinya masuk ke tubuh. Bukannya tidak boleh minum minuman berkarbonasi atau berpemanis lainnya. Tapi ingat jangan kebanyakan. Yang lebih penting perhatikan pula kalori yang masuk dan keluar.
"Memang hampir semua orang begitu kan. Minum minuman bersoda setelah makan, enak dan segar katanya. Padahal seharusnya diperhatikan jumlah kalori yang masuk ke tubuh," pungkasnya.
(rsm/up)











































