6 Game Ini Bisa Deteksi dan Atasi Penyakit

Berita Pilihan 2014

6 Game Ini Bisa Deteksi dan Atasi Penyakit

- detikHealth
Kamis, 15 Jan 2015 14:02 WIB
6 Game Ini Bisa Deteksi dan Atasi Penyakit
Jakarta -

Bermain game tidak selamanya memiliki dampak buruk. Ya, dampak buruk bagi kesehatan akan didapat jika aktivitas ini dilakukan secara berlebihan hingga sampai lupa waktu. Beberapa game bahkan bisa mendeteksi dan mengatasi penyakit.

Berikut ini enam game yang bisa mendeteksi ataupun mengatasi penyakit, seperti dirangkum detikHealth dan ditulis pada Kamis (15/1/2015):



ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Teka-teka Silang dan Tetris Cegah Alzheimer

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Hasil penelitian terbaru yang dipresentasikan pada Alzheimer Association International Conference di Denmark, menyebut orang berusia paruh baya yang senang bermain game seperti teka-teki silang, tetris, kartu, dan permainan yang mengasah otak lainnya dapat meningkatkan kemampuan otaknya. Menurut peneliti, mereka yang kerap memainkan game pengasah otak cenderung memiliki massa otak yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak suka bermain.

Para peneliti melihat otak partisipan dengan menggunakan alat pemindai kepala. Peneliti menemukan bagian otak tertentu yang rawan terserang penyakit alzheimer pada pemain game ternyata lebih besar dari orang biasa. Hal tersebut dikatakan oleh peneliti dapat menjadi petunjuk untuk memperlambat atau bahkan menghindari alzheimer.

2. Video Game Bisa Deteksi Dini Alzheimer

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Pfizer, perusahaan raksasa dalam bidang farmasi, bekerja sama dengan Akili Interactive Labs, perusahaan pembuat video game melakukan penelitian untuk mencari tahu apakah video game dapat digunakan untuk mendeteksi perbedaan kognitif pada orang tua sehat yang berisiko terkena alzheimer.

Akili Interactive Labs mengatakan bahwa ini adalah untuk pertama kalinya perusahaan farmasi menggunakan video game sebagai piranti klinis untuk mendeteksi tanda-tanda dini penyakit saraf yang bersifat degeneratif.

Sebagai bagian dari percobaan, para ahli meneliti 100 lansia. Lansia-lansia tersebut sebagian terindikasi amiloid dan sebagian sisanya tidak terindikasi. Seperti yang telah diketahui, amiloid adalah penyebab utama kerusakan sistem otak yang turut ambil bagian dalam perkembangan alzheimer. Mereka yang pada otaknya terdapat amiloid berarti berisiko tinggi terkena alzheimer, sedang yang tidak terdapat amiloid pada otaknya berarti berisiko rendah.

Seperti telah diketahui, kesulitan dalam memerhatikan, merencanakan, serta membuat keputusan adalah gejala umum dari berbagai penyakit degeneratif seperti alzheimer, ADHD, autisme, dan depresi. Di sisi lain game besutan Akili Interactive Labs itu didesain untuk mengukur dan mengembangkan kemampuan partisipan dalam mengatasi gangguan dan distraksi. Game itu diharapkan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk memerhatikan, merencanakan, dan membuat keputusan.

Peneliti berharap dengan penelitian itu mereka bisa mengetahui apakah game benar-benar dapat digunakan sebagai sarana deteksi dini alzheimer.

3. Nintendo Wii U Jadi Alat Terapi Parkinson

Perangkat dalam Nintendo Wii mengharuskan gamer untuk menjaga keseimbangannya saat berdiri di atasnya. Oleh sejumlah peneliti hal itu dapat membantu penderita parkinson untuk mengurangi risiko terjatuh.

Sesuai fungsi Wii Balance Board, penderita parkinson dilatih untuk mempertahankan keseimbangan. Sedangkan lama waktu yang disarankan berkisar 60 menit setiap harinya, di mana setiap sesi latihan dilakukan kurang lebih 20 menit, yang berarti harus dilakukan 3 kali sehari.

Antonella Peppe, PhD dan professor riset Santa Lucia Foundation di Roma, Italia mengatakan Wii Balance Board dapat merangsang sistem saraf pusat sehingga berpotensi dalam rehabilitasi masalah keseimbangan pada pasien parkinson.

4. Tetris Bisa Sembuhkan Amblyopia

Dokter di Kanada mengatakan telah menemukan cara kreatif untuk mengobati penyakit mata malas atau amblyopia dengan menganjurkan para pengidapnya bermain game tetris. Adalah tim dari Universitas McGill yang menemukan bahwa permainan game populer ini bisa melatih kedua mata untuk bisa bekerja sama.

Dalam sebuah kajian kecil yang melibatkan 18 orang dewasa menunjukkan bahwa metode latihan dengan menggunakan permainan tetris bekerja lebih baik ketimbang cara konvensional yang selama ini dilakukan.

Kasus amblyopia terjadi ketika salah satu mata tidak berkembang dengan baik, sehingga penderita harus menyipitkan mata karena tidak bisa melihat ke arah yang sama.

5. Game Konsol Bisa Cegah Kegemukan pada Anak

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Sebuah studi menunjukkan bahwa exergames atau video game yang mengandalkan aktivitas fisik pemainnya dapat mencegah kegemukan pada anak. Exergames adalah video game yang mengandalkan aktivitas fisik pemain melalui konsol. Permainan tersebut membutuhkan gerakan seperti menari, meninju, melompat, dan sebagainya.

Sekelompok peneliti dari Kanada melakukan studi terhadap 1.200 siswa di 29 sekolah di Montreal. Peneliti mencatat siapa saja yang memainkan exergames, seberapa sering frekuensinya, dan bagaimana kaitannya dengan berat badan dibandingkan dengan siswa yang tidak memainkan exergames.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73 persen anak yang memainkan exergames memiliki tingkat aktivitas yang setara dengan berolahraga sedang. Selain itu, anak yang memainkan exergames cenderung kurang mengalami depresi dan dapat mempertahankan berat badannya.

6. Video Game Untuk Diagnosis Malaria

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Para peneliti mengembangkan permainan video game internet ini untuk mengenali pola keterjangkitan malaria dengan pencitraan sel darah asli. Harapannya, permainan online ini dapat mempersingkat waktu yang dihabiskan untuk membedakan sel-sel darah merah yang terinfeksi dengan yang sehat.

Sejauh ini, relawan terlatih di University of California Los Angeles berhasil mendiagnosis sel darah yang terinfeksi malaria dengan tingkat ketepatan mendekati ahli patologi terlatih. Dengan variasi tingkat ketepatan sebesar 1,25% dibandingkan dengan profesional kesehatan, video game yang disebut crowdsourcing ini dapat dijadikan sebagai cara pengobatan malaria yang lebih baik.

Permainan ini diciptakan oleh para peneliti di Henry Samueli School of Engineering and the Applied Science UCLA dan David Geffen School of Medicine. Saat ini crowdsourcing masih berfokus pada diagnosis malaria. Namun bisa juga diubah untuk berbagai keperluan biomedis dan lingkungan. Permainan ini dapat dimainkan siapa saja di seluruh dunia lewat berbagai perangkat komputer, mulai dari ponsel hingga komputer pribadi.
Halaman 2 dari 7
Hasil penelitian terbaru yang dipresentasikan pada Alzheimer Association International Conference di Denmark, menyebut orang berusia paruh baya yang senang bermain game seperti teka-teki silang, tetris, kartu, dan permainan yang mengasah otak lainnya dapat meningkatkan kemampuan otaknya. Menurut peneliti, mereka yang kerap memainkan game pengasah otak cenderung memiliki massa otak yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak suka bermain.

Para peneliti melihat otak partisipan dengan menggunakan alat pemindai kepala. Peneliti menemukan bagian otak tertentu yang rawan terserang penyakit alzheimer pada pemain game ternyata lebih besar dari orang biasa. Hal tersebut dikatakan oleh peneliti dapat menjadi petunjuk untuk memperlambat atau bahkan menghindari alzheimer.

Pfizer, perusahaan raksasa dalam bidang farmasi, bekerja sama dengan Akili Interactive Labs, perusahaan pembuat video game melakukan penelitian untuk mencari tahu apakah video game dapat digunakan untuk mendeteksi perbedaan kognitif pada orang tua sehat yang berisiko terkena alzheimer.

Akili Interactive Labs mengatakan bahwa ini adalah untuk pertama kalinya perusahaan farmasi menggunakan video game sebagai piranti klinis untuk mendeteksi tanda-tanda dini penyakit saraf yang bersifat degeneratif.

Sebagai bagian dari percobaan, para ahli meneliti 100 lansia. Lansia-lansia tersebut sebagian terindikasi amiloid dan sebagian sisanya tidak terindikasi. Seperti yang telah diketahui, amiloid adalah penyebab utama kerusakan sistem otak yang turut ambil bagian dalam perkembangan alzheimer. Mereka yang pada otaknya terdapat amiloid berarti berisiko tinggi terkena alzheimer, sedang yang tidak terdapat amiloid pada otaknya berarti berisiko rendah.

Seperti telah diketahui, kesulitan dalam memerhatikan, merencanakan, serta membuat keputusan adalah gejala umum dari berbagai penyakit degeneratif seperti alzheimer, ADHD, autisme, dan depresi. Di sisi lain game besutan Akili Interactive Labs itu didesain untuk mengukur dan mengembangkan kemampuan partisipan dalam mengatasi gangguan dan distraksi. Game itu diharapkan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk memerhatikan, merencanakan, dan membuat keputusan.

Peneliti berharap dengan penelitian itu mereka bisa mengetahui apakah game benar-benar dapat digunakan sebagai sarana deteksi dini alzheimer.

Perangkat dalam Nintendo Wii mengharuskan gamer untuk menjaga keseimbangannya saat berdiri di atasnya. Oleh sejumlah peneliti hal itu dapat membantu penderita parkinson untuk mengurangi risiko terjatuh.

Sesuai fungsi Wii Balance Board, penderita parkinson dilatih untuk mempertahankan keseimbangan. Sedangkan lama waktu yang disarankan berkisar 60 menit setiap harinya, di mana setiap sesi latihan dilakukan kurang lebih 20 menit, yang berarti harus dilakukan 3 kali sehari.

Antonella Peppe, PhD dan professor riset Santa Lucia Foundation di Roma, Italia mengatakan Wii Balance Board dapat merangsang sistem saraf pusat sehingga berpotensi dalam rehabilitasi masalah keseimbangan pada pasien parkinson.

Dokter di Kanada mengatakan telah menemukan cara kreatif untuk mengobati penyakit mata malas atau amblyopia dengan menganjurkan para pengidapnya bermain game tetris. Adalah tim dari Universitas McGill yang menemukan bahwa permainan game populer ini bisa melatih kedua mata untuk bisa bekerja sama.

Dalam sebuah kajian kecil yang melibatkan 18 orang dewasa menunjukkan bahwa metode latihan dengan menggunakan permainan tetris bekerja lebih baik ketimbang cara konvensional yang selama ini dilakukan.

Kasus amblyopia terjadi ketika salah satu mata tidak berkembang dengan baik, sehingga penderita harus menyipitkan mata karena tidak bisa melihat ke arah yang sama.

Sebuah studi menunjukkan bahwa exergames atau video game yang mengandalkan aktivitas fisik pemainnya dapat mencegah kegemukan pada anak. Exergames adalah video game yang mengandalkan aktivitas fisik pemain melalui konsol. Permainan tersebut membutuhkan gerakan seperti menari, meninju, melompat, dan sebagainya.

Sekelompok peneliti dari Kanada melakukan studi terhadap 1.200 siswa di 29 sekolah di Montreal. Peneliti mencatat siapa saja yang memainkan exergames, seberapa sering frekuensinya, dan bagaimana kaitannya dengan berat badan dibandingkan dengan siswa yang tidak memainkan exergames.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73 persen anak yang memainkan exergames memiliki tingkat aktivitas yang setara dengan berolahraga sedang. Selain itu, anak yang memainkan exergames cenderung kurang mengalami depresi dan dapat mempertahankan berat badannya.

Para peneliti mengembangkan permainan video game internet ini untuk mengenali pola keterjangkitan malaria dengan pencitraan sel darah asli. Harapannya, permainan online ini dapat mempersingkat waktu yang dihabiskan untuk membedakan sel-sel darah merah yang terinfeksi dengan yang sehat.

Sejauh ini, relawan terlatih di University of California Los Angeles berhasil mendiagnosis sel darah yang terinfeksi malaria dengan tingkat ketepatan mendekati ahli patologi terlatih. Dengan variasi tingkat ketepatan sebesar 1,25% dibandingkan dengan profesional kesehatan, video game yang disebut crowdsourcing ini dapat dijadikan sebagai cara pengobatan malaria yang lebih baik.

Permainan ini diciptakan oleh para peneliti di Henry Samueli School of Engineering and the Applied Science UCLA dan David Geffen School of Medicine. Saat ini crowdsourcing masih berfokus pada diagnosis malaria. Namun bisa juga diubah untuk berbagai keperluan biomedis dan lingkungan. Permainan ini dapat dimainkan siapa saja di seluruh dunia lewat berbagai perangkat komputer, mulai dari ponsel hingga komputer pribadi.

(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads