Fobia Makanan, Jennifer Hanya Bisa Konsumsi Kentang Panggang dan Keju

Fobia Makanan, Jennifer Hanya Bisa Konsumsi Kentang Panggang dan Keju

- detikHealth
Rabu, 21 Jan 2015 17:00 WIB
Fobia Makanan, Jennifer Hanya Bisa Konsumsi Kentang Panggang dan Keju
Jennifer Radigan (Caters News)
East Ayrshire, Skotlandia - Idap gangguan makan Selective Eating Disorder (SED), Jennifer Radigan anti dengan daging dan sayuran yang disajikan oleh sang ibu. Akibatnya, gadis 17 tahun ini hanya bisa mengonsumsi kentang panggang, keju, keripik, dan cokelat.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ibu Jennifer mengakui bahwa putrinya memang sudah cenderung pilih-pilih makanan. Saat berusia 16 tahun, Jennifer mulai menunjukkan ketidaksukaannya pada makanan. Hingga saat ini pun, karbohidrat yang dikonsumsi Jennifer hanya berupa pasta atau kentang rebus saja.

Dengan gangguan makan yang diidapnya, bobot Jennifer hanya 36 kg dan masuk ke dalam kategori underweight. Setiap ditawari makanan baru, ia akan merasa mual, pusing, dan mendadak berkeringat dingin. Padahal, dulunya Jennifer sangat hobi makan ayam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pernah suatu ketika saya bekerja part time, tiba-tiba saya pingsan. Ternyata saya kekurangan zat besi dan vitamin B12 dan saat itulah saya didiagnosis SED. Total, saya sudah pingsan 5 kali. Kadang, saya suka gemetaran dan mudah marah. Mungkin karena kebutuhan gizi saya tidak tercukupi," tutur Jennifer, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (21/1/2015).

Setiap harinya, Jennifer tidak pernah sarapan. Di jam makan suang pun ia hanya memilih mengonsumsi keju dan keripik. Saat makan malam, ia hanya mencomot sebatang cokelat. Ketika melihat daging apalagi yang berlemak, Jennifer mengaku mual dan pusing.

"Saya sudah menawarkan Jennifer untuk membeli makanan apapun yang ia mau. Tapi tidak ada yang dipilih kecuali kentang panggang dan keju. Saya takut dengan kondisi dia saat ini, karena tubuhnya pasti kekurangan gizi," kata ibu Jennifer.

Setelah diketahui mengidap SED, Jennifer memang tengah menjalani terapi untuk mengatasi gangguan makannya. Meski begitu, ia tetap khawatir karena sebentar lagi akan masuk universitas. Jennifer khawatir jika kondisinya tak bisa menunjang kegiatan belajarnya. Apalagi, belum tentu teman-teman lain di kampus bisa menerima keadaannya.

"Saya tetap berusaha untuk bisa sembuh. Meskipun ketakutan itu tetap saja ada. Mudah-mudahan dengan diagnosis yang tepat saya bisa mendapatkan terapi terbaik supaya saya bisa menjalani hidup normal seperti orang lain," kata Jennifer.

(rdn/vit)

Berita Terkait