dr Yuda Turana, SpS, pakar kesehatan saraf dari Universitas Atmajaya menduga bahwa besar kemungkinan ayah dan kakak Ridwan mengidap Spinocerebellar Ataxia. Penyakit terbagi menjadi beberapa jenis, selain menyebabkan kelumpuhan, ada juga yang dapat menyebabkan kematian.
"Memang berbeda-beda tergantung jenisnya. SCA3 ini bisa hidup sampai 10 tahun, SCA6 bahkan bisa lebih dari 25 tahun, ada juga yang hanya sampai satu tahun sudah meninggal," tutur dr Yuda ketika berbincang dengan detikHealth, Kamis (22/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gangguan pun terasa mulai dari tingkat paling kecil seperti tak bisa memegang bolpoin hingga kehilangan kemampuan bicara dan bergerak, termasuk menggerakkan tangan, kaki dan bola mata. Pada sebagian kasus ada juga yang mengalami gangguan mental atau masalah kejiwaan.
"SCA13 bisa menyebabkan gangguan mental ya, berpengaruh ke kognitif. Jadi gampang lupa, berpengaruh terhadap ingatan," urainya lagi.
Ia juga menjelaskan soal perbedaan mendasar antara ataxia biasa dengan Spinocerebellar Ataxia. Ataxia biasa hanya mengganggu koordinasi motorik, sementara Spinocerebellar Ataxia selain mengacaukan koordinasi motorik juga dapat melemahkan dan mengecilkan otot tubuh.
"Kalau ataxia biasa hanya gangguan koordinasi ya, jadi koordinasi otak ke anggota tubuh terganggu. Kalau Spinocerebellar Ataxia ini bisa melemahkan dan mengecilkan otot juga makanya tiba-tiba ada yang susah jalan, susah menggerakkan tangan, mirip pasien stroke," tuturnya.
dr Yuda mengatakan bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Suplemen dan multivitamin yang diberikan pun tidak berpengaruh banyak. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menghambat progresifitas penyakit dengan rutin berolahraga.
(mrs/vit)











































