Teliti Hibernasi, Ilmuwan Temukan Senyawa Kimia untuk Regenerasi Saraf Otak

Teliti Hibernasi, Ilmuwan Temukan Senyawa Kimia untuk Regenerasi Saraf Otak

- detikHealth
Jumat, 23 Jan 2015 10:00 WIB
Teliti Hibernasi, Ilmuwan Temukan Senyawa Kimia untuk Regenerasi Saraf Otak
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Leicester, Inggris - Beberapa hewan di alam liar seperti beruang, landak, dan tikus mempunyai sistem pertahanan diri untuk melewati musim dingin dengan tidur panjang atau hibernasi. Hal ini dikatakan peneliti mungkin bisa menjadi kunci pengobatan penyakit degeneratif otak demensia.

Demensia saat ini masih belum banyak diketahui penyebabnya dan obatnya. Orang yang terkena demensia saraf koneksi di otaknya perlahan hancur yang akan menyebabkan sel otak mati. Jika sel sudah mati maka kemampuan kognitif seseorang akan berkurang, ingatan hilang, dan fungsi tubuh akan kacau.

Pada hewan-hewan yang berhibernasi tersebut, mereka bisa dengan sengaja menghancurkan 20 sampai 30 persen jaringan pemrosesan di otaknya agar bisa menghemat energi. Kemudian saat musim dingin telah lewat, hewan mampu membangun kembali koneksi antar otaknya seperti semula tanpa ada komplikasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ilmuwan dari Inggris meneliti hal tersebut dan menemukan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap proses pemulihan saraf koneksi otak pada hewan. Temuan ini diklaim peneliti sangat menjanjikan dan bukan tidak mungkin untuk memulihkan ingatan yang hilang.

"Hal ini memberi kita target untuk mengembangkan obat sama seperti bagaimana parasetamol digunakan untuk mengobati demam bukan dengan mandi dingin," kata salah satu peneliti, Giovanna Mallucci dari MRC Toxicology Unit di Leicester, Inggris, seperti dikutip dari BBC pada Jumat (23/1/2015).

Bahan kimia yang bernama RBM3 ditemukan peneliti melonjak pada tikus muda saat suhu tubuhnya didinginkan dan tikus-tikus tersebut bisa memperbaiki koneksi otaknya. Hal yang sama tapi tidak ditemukan pada tikus tua yang tubuhnya tidak lagi mampu memproduksi RBM3.

Studi telah dipublikasi di jurnal Nature dan kini penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan potensi dari RBM3.

(rdn/rdn)

Berita Terkait