Pasrah Mengantre demi Operasi Katarak: 'Ya Namanya Juga Gratis'

Miskin 'Dilarang' Sakit

Pasrah Mengantre demi Operasi Katarak: 'Ya Namanya Juga Gratis'

- detikHealth
Rabu, 28 Jan 2015 14:36 WIB
Pasrah Mengantre demi Operasi Katarak: Ya Namanya Juga Gratis
foto: Reza/detikHealth
Jakarta -

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjamin warga kurang mampu bisa mendapat pengobatan gratis. Demi mendapatkan layanan gratis ini, warga pun rela menjalani rumitnya menunggu giliran di rumah sakit.

Tati (51) seorang warga Balekambang, Condet, Jakarta Timur mengaku datang ke RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur untuk menjalani operasi katarak. Tidak bisa langsung dioperasi, ia harus menjalani serangkaian tes darah. Ia pun mengeluhkan lama dan rumitnya proses tersebut.

"Saya sudah dari hari Senin minggu kemarin datang buat cek darah, tapi cek darahnya sehari cuma boleh sekali," ungkap Tati, yang akhirnya harus bolak-balik setiap hari, saat ditemui detikHealth di RSUD Pasar Rebo, Jl TB Simatupang, Jakarta Timur baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, Tati harus datang setiap hari untuk menjalani tes darah. Hari pertama untuk cek kolesterol, hari kedua untuk tes gula darah, hari ketiga untuk cek tekanan darah dan seterusnya hingga kondisi tubuh pasien dianggap stabil dan siap menjalani operasi.

Baca juga: Ibu Ini Mengantre di RS Sejak Jam 3 Subuh Hanya untuk Berobat Jalan

Akibatnya, sudah hampir dua minggu ini Tati harus bolak-balik datang ke RSUD Pasar Rebo. Ia mengaku harus mengantre di loket pendaftaran sejak pukul 04.30 pagi. Itu pun sudah bisa dikatakan terlambat, sebab nomor antrean pada jam tersebut sudah mencapai 70 hingga 80.

"Saya datang hari aja jam setengah lima dapat nomor 76. Gimana datang jam 8 atau jam 9? Tadi aja bapak-bapak sebelah saya di ruang tunggu lab datangnya jam 3 pagi, dapat nomor antrean 10," ungkapnya, seperti ditulis Rabu (28/1/2015).

Pengamatan detikHealth, jadwal praktek dokter yang terpasang di lobi rumah sakit menunjukkan setidaknya ada tiga hingga lima dokter yang praktik di tiap poli.‎ Rinciannya, 4 dokter penyakit dalam, 3 dokter jantung, 3 dokter paru, dan 2 dokter bedah.

Baca juga: Susahnya Mendapatkan Kamar Rawat Inap di Rumah Sakit

Meski harus bolak-balik dan menjalani penantian panjang selama 2 minggu, Tati mengaku pasrah. Baginya, menunggu lama dan harus bolak-balik lebih baik daripada tidak mendapat penanganan sama sekali.

"Ya namanya juga gratis kan. Kita kan rakyat miskin nggak punya duit. Alhamdulillah deh yang penting saya bisa operasi," tandasnya.

(mrs/up)

Berita Terkait