Berkaitan dengan hal tersebut, pada Kamis (29/1/2015) Kemenristek Dikti resmi menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi Dexa Medica. Kerja sama dijalin dengan harapan riset obat baru dapat maju pesat lewat penelitian bersama.
Baca juga: Pesan IDI Untuk Kemenkes: Tingkatkan KIS dan Tinjau Ulang Tarif Kesehatan
"Jadi kerja sama seperti bertukar peneliti dan riset-riset dasar akan dibantu oleh pemerintah. Kita juga bisa meminjam fasilitas yang tidak kita punya karena kalau di sini kan lebih terinvestasi laboratoriumnya," kata ahli biomolekul Dexa Medica Raymond Tjandrawinata, di Kawasan Industri Jababeka II, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (29/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Musim Flu Datang, Ilmuwan Sarankan 'Mager' Saja di Rumah
"Banyak pengusaha tidak mau mengembangkan riset itu karena costnya yang tinggi. Sudah kami sampaikan kepada kementerian kuangan untuk meringankan kebijakan supaya sektor-sektor ini bisa bergerak," kata Nasir dalam konferensi pers di tempat yang sama.
Dalam beberapa tahun ke depan obat-obat dari Indonesia diharapkan sudah bisa mendunia. Produk dari Dexa Medica sendiri yang kebanyakan berasal dari bahan baku herba dikatakan oleh Raymond sudah menembus pasar Eropa, Afrika, dan Asia.
(vit/vit)











































