Jumat, 30 Jan 2015 13:03 WIB

Eks Super Model Asal Somalia: Praktik Sunat Perempuan Kejam dan Barbar

- detikHealth
Waris Dirie (Foto: Reuters) Waris Dirie (Foto: Reuters)
Jakarta - Waris Dirie, mantan super model asal Somalia sempat merajai panggung fashion Prancis di 90-an. Sudah tak aktif lagi keliling dunia sebagai model, Dirie mengalihkan perhatiannya kepada nasib para perempuan di negara asalnya.

Salah satu masalah utama yang dirasakan para perempuan Somalia adalah praktik sunat perempuan yang masih sering dilakukan. Berbeda dengan praktik sunat perempuan di Indonesia yang hanya mengiris sedikit bagian atas klitoris, sunat perempuan di Somalia memotong seluruh bagian klitoris hingga tak tersisa.

"Ini tentu saja tidak bisa dibiarkan. Sunat perempuan merupakan perbuatan yang kejam dan barbar, serta melanggar hak asasi manusia. Tidak ada tempat bagi praktik sunat perempuan di abad 21," ungkap Dirie, dikutip dari Reuters, Jumat (30/1/2015).

Baca juga: Sunat Perempuan Masih Banyak Dilakukan di Somalia

Data dari WHO menunjukkan bahwa 140 juta wanita dan anak perempuan di dunia masih menjadi korban sunat perempuan. Di beberapa negara Afrika seperti Somalia, tradisi sunat perempuan sangat ekstrim seperti menjahit bibir vagina atau memotong klitoris.

Untuk itu, Dirie pun mendirikan yayasan yang bernama Desert Flower Foundation. Yayasan ini bertujuan untuk menyelematkan gadis-gadis di benua Afrika dari tradsisi barbar tersebut, dengan cara memberikan bantuan makanan, bensin hingga beasiswa kepada keluarga yang setuju untuk tidak melakukan sunat perempuan.

Perhatian Dirie kepada sunat perempuan bukan tanpa alasan. Ia merupakan salah satu korban tradisi tersebut sebelum akhirnya melarikan diri dari Somalia pada usia 13 tahun.

Baca Juga: Lindungi Wanita, WHO Serukan 'Lawan' Tradisi Sunat dan Nikah Muda

Karena itulah setelah karirnya sebagai model usai, Dirie langsung memfokuskan diri untuk penanganan sunat perempuan di Somalia dengan membentuk yayasannya. Meski awalnya kurang disambut dengan baik, namun Dirie mengatakan sudah ada beberapa pihak yang mendukungnya, termasuk WHO.

"Ketika aku mulai berbicara memang respons yang diberikan sedikit. Bahkan aku mendapat ancaman karena dianggap menghina tradisi leluhurku sendiri. Namun zaman sudah berubah dan aku kini tak lagi berjuang sendiri. Banyak yang mendukung dan aku percaya sunat perempuan dapat dihilangkan sebelum aku mati," tegasnya.

(mrs/vit)