Rombongan Kementerian Kesehatan (kemenkes) RI serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM) mengunjungi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) pada Kamis (5/2/2015) di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Kunjungan dilakukan untuk semakin memperkuat eksistensi jamu sebagai kekayaan budaya Indonesia.
B2P2TOOT yang berada di bawah naungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) berfungsi untuk membuktikan jamu secara ilmiah sehingga dapat disetarakan seperti obat. Sampai saat ini ada puluhan ribu formula jamu yang biasa dikonsumsi masyarakat telah teridentifikasi dan sedang diteliti khasiatnya.
Baca juga: Kalau Mbok Jamunya Secantik Ini, Yakin Masih Tak Suka Minum Jamu?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penelitian yang dilakukan pada jamu ini mulai dari tanam, benih, sampai pengolahannya itu dilakukan baik sekali. Untuk diproduksi secara besar sangat dimungkinkan," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Untung Suseno Sutarjo, di B2P2TOOT, seperti ditulis Jumat (6/2/2015).
Bekerjasama dengan Kemenkop-UKM, diharapkan nantinya ramuan-ramuan jamu yang ada di B2P2TOOT dapat dijual di UKM sehingga nilai ekonomi bahan tumbuhannya dapat bertambah. Nilai ekonomi tumbuhan yang bertambah dikatakan oleh Kepala B2P2TOOT Indah Yuning Prapto tentunya juga akan meningkatkan kesejahteraan para petani.
Dijualnya jamu lewat UKM juga diharapkan akan membuat masyarakat Indonesia lebih mudah mengakses jamu-jamu yang telah terstandar dan terbukti khasiatnya secara ilmiah.
"Kerjasama dengan UKM mungkin ditingkatkan. Itu yang saya bilang perlu ada conferencium (konferensi -red) antara akademisi, bisnis, dan government. Kalau itu sudah jadi mungkin ini bisa lebih bagus lagi," tutup Untung.
Baca juga: 5 Jamu Paling Ngehits: Beras Kencur Hingga Ekstrak Purwaceng (up/up)











































