Selasa, 10 Feb 2015 09:38 WIB

Risiko Depresi Bisa Diprediksi Hanya dengan 'Melongok' Bagian Otak Ini

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Getty Images) Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Salah satu kendala yang kerap dihadapi dokter saat akan menangani pasien depresi adalah keengganan mereka untuk memeriksakan diri. Akibatnya, mereka baru terpaksa datang ke dokter bila kondisinya sudah kronis.

Hal ini tentu memperkecil peluang kesembuhan pada pasien yang bersangkutan. Beruntung sekelompok peneliti dari Amerika menemukan, ada satu bagian otak yang dapat dimanfaatkan untuk memprediksi risiko depresi seseorang.

Bagian otak yang dimaksud adalah 'amygdala'. Amygdala merupakan salah satu bagian otak yang paling penting karena fungsinya sebagai pendeteksi dan pemberi respons akan adanya bahaya yang mengintai seseorang.

Lantas mengapa amygdala yang diteliti? Peneliti mendasarkan riset mereka pada beberapa studi kecil yang dilakukan terhadap sejumlah prajurit yang baru saja pulang dari medan perang dan didiagnosis mengidap post-traumatic stress disorder (PTSD).

"Dari situ kami melihat adanya petunjuk, bahwa perbedaan aktivitas pada bagian otak ini ada kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk menanggapi sumber stres tertentu," kata peneliti.

Baca juga: Air Liur yang Seperti Ini Diklaim Bisa Prediksi Risiko Depresi pada Remaja Pria

Untuk membuktikannya, peneliti melakukan scanning pada otak 753 mahasiswa yang dinyatakan sehat ketika mereka diminta mengamati gambar orang marah atau ketakutan. Kemudian aktivitas amygdala mereka diukur untuk mengetahui seberapa aktif respons amygdala terhadap stimulan atau rangsangan yang diberikan tersebut.

Lalu tiap tiga bulan, partisipan diminta mengerjakan survei online yang akan mendokumentasikan setiap kejadian yang berdampak negatif terhadap mental partisipan berikut efeknya secara langsung. Gejala depresi dan ansietas pada partisipan juga dilaporkan kepada peneliti.

Namun setelah dua tahun berlalu, hanya sekitar 200 partisipan yang benar-benar mampu menyelesaikan seluruh survei yang diberikan tiap tiga bulan, bahkan hingga di tahun keempat.

"Dari hasil itu diketahui bahwa partisipan dengan amygdala yang lebih reaktif terbukti memperlihatkan gejala ansietas dan depresi yang lebih besar saat dihadapkan pada masalah tertentu. Dengan kata lain mereka lebih rentan terhadap hal-hal seperti kematian, pengangguran atau perceraian," simpul peneliti Johnna Swartz dari Duke University.

Kendati demikian, Swartz mengakui bilamana amygdala yang terlalu aktif tidak cukup untuk memprediksi risiko ansietas dan depresi seseorang. "Setidaknya dengan adanya penanda ini, ini akan menuntun kita untuk mencari pengobatan lebih dini, sebelum gangguan mental ini mengganggu kehidupan seseorang," pungkasnya, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (10/2/2015).

Baca juga: Hati-hati, Depresi Akibat Perceraian Bisa Berujung Pada Penyakit

(lil/up)
News Feed