Waspada! Saat Banjir Tiba, Anak-anak Rentan Terserang Penyakit Ini

Waspada! Saat Banjir Tiba, Anak-anak Rentan Terserang Penyakit Ini

- detikHealth
Selasa, 10 Feb 2015 18:01 WIB
Waspada! Saat Banjir Tiba, Anak-anak Rentan Terserang Penyakit Ini
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Di musim penghujan seperti saat ini, beberapa wilayah, termasuk ibukota Jakarta pun tak luput dari genangan banjir. Masalah kesehatan pun bisa muncul akibat adanya genangan air di mana-mana, yang bisa saja sudah terkontaminasi oleh berbagai kuman dan bakteri.

Utamanya pada anak-anak, ada beberapa penyakit yang rentan menyerang mereka, mengingat selain kondisi lingkungan yang tidak higienis, anak-anak juga sering bermain dengan genangan banjir. Lantas penyakit apa saja yang bisa menyerang anak-anak dan perlu diantisipasi?

Berikut rangkumannya seperti ditulis detikHealth pada Selasa (10/2/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Listrik Padam Saat Banjir? Begini Trik 'Menyelamatkan' ASI di Kulkas


1. Sakit kulit

ilustrasi (Foto: thinkstock)
dr Meta Hanindita yang kini tengah mengambil pendidikan dokter anak di FK Unair/Dr Soetomo Surabaya menuturkan sakit kulit juga mengalami peningkatan saat musim banjir. Apalagi, saat banjir anak-anak seringkali bermain air bahkan sampai berenang di genangan air.

Penyakit kulit yang menyerang anak-anak bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi kulit karena bakteri hingga menyebabkan gatal-gatal. Atau bisa juga karena alergi.

"Waktu hujan, sampah yang terbawa arus bisa menjadi sarang penyakit. Luapan air yang mengandung zat kotoran atau kuman bisa mengundang penyakit," tutur dr Meta.

2. Leptospirosis

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Penyakit kencing tikus atau dalam istilah medis dikenal dengan leptospirosis, sebenarnya bakteri yang masuk ke tubuh dan menyebabkan terganggunya fungsi organ yaitu ginjal atau liver. Kuman leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan.

Kuman leptospira ini dapat 'berenang' di air sehingga bisa menginfeksi kaki manusia yang sedang terluka. Leptospira juga bisa menginfeksi seseorang melalui makanan atau minuman. Umumnya laporan orang yang terkena leptospirosis terjadi setelah banjir, demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), drh Wiwiek Bagja.

"Tikus itu kan cari makannnya di tempat sampah yang kotor dan jorok, kencing di mana-mana. Karena jumlahnya besar maka penyebarannya cepat terutama pas banjir. Kalau banjir kenapa cepat penyebarannya, karena tikus kan kencingnya terfokus di satu tempat. Pas banjir kebawa semua dan menyebar," kata drh Wiwiek.

3. Diare

ilustrasi (Foto: thinkstock)
dr Meta menuturkan air banjir biasanya kotor dan mengandung banyak kuman memang bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut atau diare.

Saat anak terkena diare, pastikan kebutuhan cairannya terpenuhi agar tidak sampai dehidrasi berat. Sebisa mungkin berikan cairan oralit karena jika diare berlebihan dan hanya minum air saja, dikhawatirkan natrium di tubuh anak kurang hingga elektrolitnya terganggu.

"Pada dasarnya semua penyakit ini bisa menjadi parah kalau tidak mendapat penanganan dini yang seharusnya. Misalnya diare, bisa menjadi dehidrasi berat dan menyebabkan kematian kalau tidak mendapat penanganan secepatnya," tutur dr Meta.

4. Demam tifoid

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Awalnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Pada tahap lanjut, muncul keluhan berupa demam di sore hari dan serangkaian gejala infeksi pada saluran cerna.

Baca juga: Meski Sedang Kebanjiran, Jangan Pernah Abaikan Standar Pemberian Makan Bayi

5. Demam berdarah

ilustrasi (Foto: thinkstock)
"Penyakit lain yang biasanya meningkat jumlah kasusnya pada musim banjir adalah demam berdarah. Sebab, nyamuk penyebab demam berdarah suka sekali berkumpul di genangan air," kata dr Meta.

Dikutip dari situs www.wpro.who.int, WHO menyerukan pentingnya menyingkirkan barang-barang bekas seperti ban bekas, pot, atau tempat sampah yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk terutama sebelum musim penghujan.

Sehingga, area berupa genangan air yang bisa menjadi tempat berkumpulnya nyamuk demam berdarah pun bisa diminimalisir.

6. Batuk pilek.

ilustrasi (Foto: thinkstock)
Kondisi banjir membuat suasana menjadi lembab dan dingin. Ditambah dengan cuaca yang tidak mendukung sehingga rentan memicu penyakit batuk pilek. Penderita banjir yang setiap hari menghadapi kondisi seperti ini tentu lebih rentan terserang batuk pilek.
Halaman 2 dari 7
dr Meta Hanindita yang kini tengah mengambil pendidikan dokter anak di FK Unair/Dr Soetomo Surabaya menuturkan sakit kulit juga mengalami peningkatan saat musim banjir. Apalagi, saat banjir anak-anak seringkali bermain air bahkan sampai berenang di genangan air.

Penyakit kulit yang menyerang anak-anak bisa bermacam-macam, mulai dari infeksi kulit karena bakteri hingga menyebabkan gatal-gatal. Atau bisa juga karena alergi.

"Waktu hujan, sampah yang terbawa arus bisa menjadi sarang penyakit. Luapan air yang mengandung zat kotoran atau kuman bisa mengundang penyakit," tutur dr Meta.

Penyakit kencing tikus atau dalam istilah medis dikenal dengan leptospirosis, sebenarnya bakteri yang masuk ke tubuh dan menyebabkan terganggunya fungsi organ yaitu ginjal atau liver. Kuman leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan.

Kuman leptospira ini dapat 'berenang' di air sehingga bisa menginfeksi kaki manusia yang sedang terluka. Leptospira juga bisa menginfeksi seseorang melalui makanan atau minuman. Umumnya laporan orang yang terkena leptospirosis terjadi setelah banjir, demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), drh Wiwiek Bagja.

"Tikus itu kan cari makannnya di tempat sampah yang kotor dan jorok, kencing di mana-mana. Karena jumlahnya besar maka penyebarannya cepat terutama pas banjir. Kalau banjir kenapa cepat penyebarannya, karena tikus kan kencingnya terfokus di satu tempat. Pas banjir kebawa semua dan menyebar," kata drh Wiwiek.

dr Meta menuturkan air banjir biasanya kotor dan mengandung banyak kuman memang bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut atau diare.

Saat anak terkena diare, pastikan kebutuhan cairannya terpenuhi agar tidak sampai dehidrasi berat. Sebisa mungkin berikan cairan oralit karena jika diare berlebihan dan hanya minum air saja, dikhawatirkan natrium di tubuh anak kurang hingga elektrolitnya terganggu.

"Pada dasarnya semua penyakit ini bisa menjadi parah kalau tidak mendapat penanganan dini yang seharusnya. Misalnya diare, bisa menjadi dehidrasi berat dan menyebabkan kematian kalau tidak mendapat penanganan secepatnya," tutur dr Meta.

Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Awalnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Pada tahap lanjut, muncul keluhan berupa demam di sore hari dan serangkaian gejala infeksi pada saluran cerna.

Baca juga: Meski Sedang Kebanjiran, Jangan Pernah Abaikan Standar Pemberian Makan Bayi

"Penyakit lain yang biasanya meningkat jumlah kasusnya pada musim banjir adalah demam berdarah. Sebab, nyamuk penyebab demam berdarah suka sekali berkumpul di genangan air," kata dr Meta.

Dikutip dari situs www.wpro.who.int, WHO menyerukan pentingnya menyingkirkan barang-barang bekas seperti ban bekas, pot, atau tempat sampah yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk terutama sebelum musim penghujan.

Sehingga, area berupa genangan air yang bisa menjadi tempat berkumpulnya nyamuk demam berdarah pun bisa diminimalisir.

Kondisi banjir membuat suasana menjadi lembab dan dingin. Ditambah dengan cuaca yang tidak mendukung sehingga rentan memicu penyakit batuk pilek. Penderita banjir yang setiap hari menghadapi kondisi seperti ini tentu lebih rentan terserang batuk pilek.

(rdn/lil)

Berita Terkait