Satu lagi efek negatif stres dikatakan oleh pakar perawatan luka, dr Adisaputra Ramadhinara, CWSP, FACCWS. Menurut dr Adi, luka yang dialami pasien akan lebih sulit sembuh jika pasien merasa stres.
"Stres akan merangsang aktivitas saraf simpatis. Akibatnya, tubuh akan memproduksi adrenalin dan kortisol. Dua hal ini dapat memperlambat proses penyembuhan luka," tutur dr Adi, dalam temu media di Hotel Gran Mahakam, Jl Mahakam, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bagi Pengidap Diabetes, Luka Kecil Bisa Jadi Penyebab Amputasi
Selain itu, kortisol juga menghambat fungsi sel yang bertugas untuk membersihkan luka dari bakteri. Alih-alih sembuh, luka akan lebih lama terbuka dan risiko infeksi pun meningkat.
"Belum lagi stres yang dirasakan akibat rasa nyeri ketika mengganti dressing (penutup luka). Selain nyeri, risikonya juga menimbulkan luka baru, menambah stres pasien lagi deh," tandas dokter pemilik sertifikat America Board of Wound Management tersebut.
Hal lain yang harus dihindari adalah penggunaan antiseptik dan obat merah ketika menangani luka. Menurut dr Adi, penggunaan obat merah dan antiseptik untuk menutup luka tidak tepat. Sebabnya, obat merah atau antiseptik bisa jadi hanya mengobati bagian luar luka, namun tidak mengobati luka bagian dalam.
"Nanti kalau kering luarnya saja, tapi dalamnya bonyok bagaimana? Karena itu saya sudah nggak sarankan pakai obat merah. Sementara untuk antiseptik harus dilihat apakah lukanya infeksi atau nggak, kalau nggak infeksi ya nggak usah pakai antiseptik," pungkasnya.
Baca juga: Kulit Orang Mati 'Dipanen' dan Dijadikan Penyembuh Luka dan Borok
Para ilmuwan juga menemukan bahwa sifat yang terkait dengan agresif seperti kebohongan, pengambilan risiko dan rendahnya rasa empati dapat memprediksi perkembangan kekuatan pada anak laki-laki.
(rsm/up)











































