Ingin Punya Anak, Wanita Ini Mati-matian Sembuhkan Diri dari Fobia Muntah

Ingin Punya Anak, Wanita Ini Mati-matian Sembuhkan Diri dari Fobia Muntah

- detikHealth
Selasa, 17 Mar 2015 14:36 WIB
Ingin Punya Anak, Wanita Ini Mati-matian Sembuhkan Diri dari Fobia Muntah
Jessica Mellen dan Marvin Graaf (Foto: ABC News)
New Hampshire, AS -

Karena gangguan ansietas atau kecemasan yang dialaminya, Jessica Mellen seringkali panik hanya karena hal-hal kecil, seperti saat berkendara atau ketika menggunakan elevator. Namun ada satu hal lain yang lebih mengganggu hidupnya.

Wanita berusia 29 tahun ini mengaku takut dirinya akan memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya, dan rasa takut ini telah berubah menjadi fobia. "Jika saya disuruh memilih, lebih baik saya ditembak di kaki daripada harus muntah, walaupun cuma sekali," ungkap Jessica.

Fobia muntah ini seringkali disebut dengan 'emetophobia'. Dalam kesehariannya, Jessica pun menghindari hal-hal yang bisa membuatnya muntah, bahkan kemanapun ia pergi, Jessica selalu membawa obat-obatan seperti antasida, obat penghilang rasa mual, hingga hand sanitizer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Tetap Mual Meski Sudah Diberi Obat Penghilang Rasa Mual, Mengapa?

Hingga akhirnya ia bertemu sang kekasih, Marvin Graaf. Ketika mereka jadian, Jessica langsung mengungkapkan tentang gangguan ansietas yang diidapnya, dan Marvin mengaku tak ada masalah dengan hal itu.

Namun semua berubah saat keduanya mulai berencana untuk menikah dan membangun keluarga bersama. Tiap kali Marvin menyinggung masalah itu, Jessica kerap terkena serangan panik. Jessica tak bisa membayangkan dirinya akan hamil dan mengalami morning sickness.

"Di sisi lain saya juga tak mau kehilangan sesuatu yang mungkin sangat spesial bagi kami hanya karena fobia. Saya tahu ini tak adil baginya," kata Jessica seperti dikutip dari ABC News, Selasa (17/3/2015).

Saking ekstremnya kondisi Jessica, wanita cantik berambut panjang ini bahkan sempat melakukan riset mandiri untuk mencari tahu berapa besar biaya yang dibutuhkan agar mereka bisa mendapatkan anak dengan memanfaatkan jasa ibu pengganti (surrogate mother).

Akan tetapi demi Marvin, Jessica kemudian memutuskan untuk melawan rasa takutnya itu. Ia pun menjalani terapi dengan Dr Steven Tsao di Center for the Treatment and Study of Anxiety, University of Pennsylvania. Terapi paparan ini berlangsung selama lima bulan, di mana Jessica harus berhadapan langsung dengan segala aspek dari ketakutannya.

Selain diperlihatkan gambar-gambar orang yang sedang muntah, Dr Tsao juga menyuruhnya makan makanan dari pedagang kaki lima yang tak begitu bersih. Jessica juga diperlihatkan muntahan palsu yang sebenarnya adalah oatmeal dan sup yang dicampur menjadi satu.

"Untuk bisa menghadapi ketakutan terbesarnya, kami memaksanya menyentuh muntahan palsu itu. Bahkan kami juga berupaya membuat Jessica muntah-muntah," terang Dr Tsao.

Setelah beberapa minggu, barulah Jessica menyadari bahwa fobianya itu ternyata berakar pada gangguan ansietas yang diidapnya, dan ia mulai terbiasa bila melihat orang muntah. Walaupun belum sembuh total, setidaknya kini Jessica tahu bagaimana mengelola fobianya tersebut.

Baca juga: Mual Heboh di Trimester Pertama Pertanda Kehamilan Sehat

Dari sebuah studi yang dipublikasikan jurnal Mental Illness, pakar memperkirakan ada 3,1-8,8 persen dari populasi yang mengidap fobia muntah, namun masih dalam skala yang ringan. Wanita empat kali lebih besar kecenderungannya untuk mengidap gangguan ini.

"Mereka cenderung menghindari berbagai situasi atau kegiatan yang mereka yakini dapat meningkatkan risiko muntah-muntah," terang peneliti.

(lil/vta)

Berita Terkait