Yang terbaru, sekelompok peneliti dari Turki menemukan bahwa rasio antara panjang jari telunjuk dan jari manis pria dapat dijadikan patokan untuk memprediksi risiko seseorang mengidap skizofrenia, terutama pada pria.
Hal ini didasarkan pada pengamatan yang dilakukan antara tahun 2012-2013. Peneliti kemudian menghitung rasio kedua jari pada 103 pasien skizofrenia lalu membandingkannya dengan rasio jari telunjuk-jari manis milik 100 pria sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jari-jari tangan yang tidak simetris menunjukkan adanya paparan hormon tertentu yang tidak biasa terhadap otak, sehingga sarana ini berpotensi sebagai alat diagnosis untuk menentukan ada tidaknya risiko skizofrenia tersebut," ungkap sang peneliti, Dr Taner Oznur seperti dikutip dari jurnal Clinical Anatomy, Selasa (24/3/2015).
Baca juga: Daftar Kondisi Kesehatan yang Bisa Diprediksi dari Keadaan Tangan (1)
Peneliti menduga paparan hormon testosteron yang sangat tinggi saat masih dalam kandungan dapat mempengaruhi perkembangan otak si bayi, sehingga ketika beranjak dewasa, risikonya mengalami gangguan mental seperti skizofrenia menjadi besar.
"Dan paparan hormon yang sama di dalam rahim diduga juga mempengaruhi ukuran dan panjang jari-jari tangan si bayi, sehingga keduanya dapat dikaitkan," imbuh Dr Oznur.
Kendati begitu, sebagian pakar menganggap hanya dengan melihat atau mengamati panjang pendek jari tangan seseorang maka dokter tidak dapat serta-merta mendiagnosis seseorang dengan skizofrenia. Mereka percaya meski ini berkaitan, namun efeknya tidak bersifat langsung.
Hal lain yang sering dikaitkan dengan rasio panjang jari telunjuk dan jari manis adalah orientasi seksual, agresivitas, performa akademik, hingga risiko sakit jantung.
Baca juga: Anak Kena Autis dan Skizofren Penyebabnya Karena Ayah
Kepada detikHealth, dr Andri SpKJ, psikiater dari RS Omni Alam Sutra Jakarta beberapa waktu lalu menerangkan, skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikotik yang ditandai dengan adanya kekacauan pikiran, emosi dan perilaku. Skizofrenia sendiri tergolong gangguan mental berat, bahkan pada sejumlah pasien gangguan ini bisa menghantuinya hingga seumur hidup.
Gejalanya antara lain mengalami halusinasi seperti mendengar bisikan dan delusi atau gangguan pikiran di mana penderita memiliki keyakinan yang tidak sesuai dengan realita yang ada.
(lil/vta)











































