Setidaknya inilah yang berhasil terungkap dari dua penelitian terbaru dari Amerika ini. Studi pertama memastikan polusi udara terbukti memicu serangan stroke pada orang-orang yang telah memiliki faktor risiko.
Baca juga: Perkembangan Otak Anak Bisa Terganggu Gara-gara Paparan Polusi Udara
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan 15 persen di antaranya memperlihatkan gejala ansietas 'parah', kendati itu bukan berarti mereka mengidap gangguan ansietas. Ketua tim peneliti, Melinda Power dari Johns Hopkins University, Baltimore dan timnya menduga polusi sebenarnya hanya memicu gejala kecemasan secara tidak langsung, yakni dengan memperburuk gejala gangguan jantung maupun paru-paru yang dimilikinya.
"Tapi sebenarnya polusi udara tidak lantas membuat risiko penyakit yang dimiliki partisipan menjadi kronis," imbuh Power seperti dikutip dari CBS News, Selasa (31/3/2015).
Namun Michael Brauer dari University of British Columbia, Vancouver, editor jurnal BMJ di mana studi ini dipublikasikan, mengatakan dari penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah tikus di lab, pencemaran udara dikatakan dapat mempengaruhi kinerja otak tikus sehingga memicu kecemasan.
Tapi ia meyakini bila keterkaitan antara polusi dan gejala ansietas dapat dibuktikan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti risiko gangguan mental seseorang dapat dikurangi hanya dengan mengurangi paparan pencemaran udara.
Kendati demikian Power belum bisa mengatakan kualitas udara yang baik akan membantu mengurangi gejala ansietas. "Penelitian ini masih sangat dini," tutupnya.
Baca juga: Kanker Paru Geser Kanker Payudara, 'Pembunuh' Wanita No 1 di Negara Maju
(lil/rdn)











































