Peristiwa bermula saat Koral bersama keluarganya pergi berlibur ke Danau Havasu di Arizona pada Mei 2013. Tak lama kemudian Koral mengeluh sakit kepala, leher kaku, dan dirinya jadi begitu peka terhadap cahaya dan panas. Hingga akhirnya pada Juni 2014, Koral dilarikan ke ruang gawat darurat.
Kala itu dokter hanya menyebut Koral mengalami gejala putus obat dari penggunaan obat pengontrol kelahiran, yang ditandai dengan datangnya migrain. Dokter kemudian memberi obat dan menyuruh Koral istirahat di rumah. Bukannya membaik, keadaan Koral malah memburuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Gara-gara Bermain di Selokan, Otak Bocah 12 Tahun Ini Dimakan Amoeba
Menurut dokter, apa yang dialami koral merupakan akibat dari infeksi amoeba langka yang mematikan, Balamuthia. Amoeba ini Menurutnya, angka kematian akibat paparan infeksi amoeba ini sangat tinggi. Di mana hanya 13 persen pasien yang bisa bertahan hidup tanpa mendapat perawatan.
dr Navaz Karanjia, Direktur Neurocritical Care dan Neuro-ICU di UC San Diego's Health System menjelaskan Balamuthia umumnya ditemukan di dalam tanah dan di debu. Jika masuk ke dalam tubuh manusia dan mengakibatkan infeksi, maka gejala umumnya antara lain sakit kepala, kelelahan, dan leher kaku. Namun gejala ini seringkali membuat dokter kesulitan untuk mendiagnosis.
Dikutip dari WFLA, dr Karanjia mengatakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi amoeba ini adalah obat yang sama untuk pengobatan parasit yang lain, leishmaniasis. Efektivitas obat ini pada beberapa kasus memang sangat menjanjikan.
Baca juga: Otak Gadis Ini Digerogoti Amoeba Usai Berendam di Water Park
Atas kasus yang menimpa putrinya, ibunda Koral, Cybil Meister pun berupaya meningkatkan kesadaran publik akan bahaya amoeba pemakan otak yang mematikan itu. Upayanya dilakukan antara lain dengan membuat page di Facebook dengan nama Team Koral Reef Amoeba Awareness.
"Tingkatkan kesadaran tentang bakteri pemakan otak Balamuthia mandrillarius sehingga publik menyadari bahayanya dan bisa melakukan langkah pencegahan," begitu bunyi salah satu status di laman Facebook, dan dikutip pada Rabu (8/4/2015).
Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan menurut Cybil adalah dengan mengenali tempat-tempat yang rawan terdapat amoeba sehingga bisa dibuat peringatan yang tepat, melatih petugas medis untuk mengenali tahap awal infeksi, menyediakan alat diagnostik yang tepat, serta membantu mengumpulkan dana untuk penelitian terkait amoeba yang ganas tersebut. (Nurvita Indarini/Nurvita Indarini)











































