Masih Sehat Tapi Nekat Minum Pil untuk Parkinson, Dampaknya Tak Main-main

Fenomena Mabuk Pil Kuning

Masih Sehat Tapi Nekat Minum Pil untuk Parkinson, Dampaknya Tak Main-main

Nurvita Indarini - detikHealth
Selasa, 28 Apr 2015 17:04 WIB
Masih Sehat Tapi Nekat Minum Pil untuk Parkinson, Dampaknya Tak Main-main
Foto: Edo/detikcom
Jakarta - Bijaklah dalam mengonsumsi obat, apalagi obat keras. Jangan coba-coba menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan obat keras yang sedianya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter, seperti pil kuning untuk pasien parkinson. Jika masih muda dan sehat namun nekat mengonsumsi obat yang tidak sesuai peruntukannya, dampaknya tidak main-main.

"Organ-organ tubuh jadi terganggu, misalnya jantung. Jantung yang normalnya berdenyut 72 (72 denyut per menit), karena minum obat itu jadi lebih tinggi. Bisa jadi ada gangguan irama jantung atau aritmia," tutur Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jakarta Pusat, Drs M Yamin, M.Pharm, Apt, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (28/4/2015).

Baca juga: 'Pil Kuning' untuk Parkinson Sudah Lama Dipakai untuk Mabuk-mabukan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan ada yang menyebut bila obat untuk parkinson dikonsumsi dalam jangka panjang oleh remaja maka dapat mengakibatkan pikun lebih awal. Menurut Yamin, jika dikonsumsi terus-menerus maka akan mengakibatkan gangguan reflek, di mana reflek jadi menurun.

Yamin mengatakan ada banyak obat yang telah disalahgunakan peruntukannya. Misalnya saja obat batuk dextro yang kemudian oleh Badan Pengawas Obat dna Makanan (BPOM) dibatasi sediaan tunggalnya, juga pereda nyeri tramadol dan codeine. Obat yang digunakan untuk terapi kecanduan narkoba juga sering disalahgunakan, dan masih banyak lainnya.

Pada saat over dosis pemakaian obat untuk parkinson ini bisakah sampai mengakibatkan hilangnya nyawa? "Setahu saya tidak langsung (meninggal), tapi secara bertahap ada penurunan fungsi tubuh. Dampaknya bisa mulai dari insomnia, kebingungan, masalah pencernaan, mulut kering, gangguan pola makan, hingga ke organ tubuh," ucap Yamin.

Menurutnya, kecanduan pil kuning memang berefek seperti penggunaan narkoba, akan tetapi tidak sekuat narkoba. Jadi ketika ada gejala putus obat, sambungnya, maka tidak sehebat orang yang kecanduan heroin, misalnya. "Jadi memang ada risiko efek sambing tapi tidak seperti narkotika. Mungkin remaja yang mencoba mendapatkan obat ini karena harganya lebih murah daripada narkoba," kata Yamin.

Baca juga: Terlalu 'Kreatif', Efek Euforia Dicari dari 'Pil Kuning' untuk Parkinson

Terkait pil kuning untuk mabuk-mabukan, belum lama ini apotek di Bekasi Barat digerebek karena melayani pembelian obat parkinson tanpa resep. menurut pengakuan apotek, nama obatnya Hexymer dan isinya Trihexypenidyl. Penelusuran detikHealth, Hexymer merupakan obat anti parkinson buatan PT Mersifarma TM. Obat tersebut mengandung Trihexyphenidyl HCl, dijual dengan harga Rp 200.000 untuk kemasan pak berisi 1.000 tablet dan Rp 65.625 untuk kemasan pak berisi 250 tablet.

Dikutip dari label yang disertakan dalam kemasan aslinya, Hexymer merupakan golongan obat antikolinergik eksogen untuk terapi parkinson. Artinya, obat tersebut bekerja pada sistem saraf. (Nurvita Indarini/AN Uyung Pramudiarja)

Berita Terkait