Nepal pada 25 April 2015 lalu diguncang gempa berkekuatan 7,8 skala Richter dan menewaskan lebih dari 6 ribu orang. Menurut data pemerintah nepal setidaknya 14 ribu orang alami luka-luka dan tak terhitung berapa jumlah orang yang hilang.
Perwakilan UNICEF di Nepal, Rownak Khan, mengatakan musim hujan dapat memperparah keadaan karena kondisi reruntuhan pasca gempa akan menjadi basah, kotor, dan berlumpur. Musim hujan Nepal diperkirakan akan tiba pada bulan Juni sampai September.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rumah sakit membludak, air bersih sulit ditemukan, mayat masih banyak terkubur di reruntuhan, dan orang-orang tidur di tempat terbuka. Ini adalah kondisi sempurna untuk penyakit berkembang biak," ujar Khan seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (5/5/2015).
Menurut catatan World Health Organization (WHO), beberapa rumah sakit di area gempa luluh lantak. Tidak ada kekurangan tenaga kesehatan namun suplai medis sangat dibutuhkan.
Prevelansi penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapas akut (ISPA), campak, dan kolera dikhawatirkan akan meroket ketika musim hujan tiba.
Pada Januari 2010 gempa hebat yang melanda Haiti diketahui menewaskan lebih dari seperempat juta orang di area tersebut. Jumlah tersebut tapi diperparah dengan penyakit kolera yang melanda dan menewaskan ribuan orang setelahnya. Nepal diharapkan tak akan mengalami hal yang sama.
Baca juga: Post Traumatic Stress Disorder, Gejala Pasca Bencana yang Sering Terlupakan (Firdaus Anwar/AN Uyung Pramudiarja)











































